Wika dan Bukunya Mengangkat Indonesia Timur

Wika dan Bukunya Mengangkat Indonesia Timur

Cerpen-cerpen dalam Untuk Perempuan yang Kepadanya Rembulan Mengiba (Elex Media Kamputindo, Agustus 2019) banyak mengangkat tradisi dan sejarah Indonesia timur, mulai dari Maluku, Maluku Utara, Papua hingga NTT.

Buku karya Wika G. Wulandari, penulis kelahiran Tidore, Maluku Utara, ini menjadi pokok diskusi pada hari kedua Festival Sastra Yogya (Joglitfest) 2019, Sabtu (28/9/2019), mulai pukul 11.00 hingga 13.00 WIB, dalam mata acara bertajuk Bincang Sastra dan Bedah Buku.

Dalam acara tersebut, penulis yang merupakan mahasiswi Universitas Ahmad Dahlan itu ditemani oleh Deni Mizhar, sastrawan muda yang aktif di Pelangi Sastra Malang, sebagai pengulas.

Menurut Deni, buku karya Wika ini menarik. Ada beberapa cerita pendek tentang sejarah Indonesia Timur, juga mitos-mitos di Tidore, Papua, dan suku Bajo.

“Itu menjadi menarik bila diangkat di dunia karya tulis sastra. Dalam cerita-ceritanya ada pula kritik lingkungan dan kemanusiaan,” kata Deni.

Pernyataan Deni tersebut dibenarkan oleh Wika.

“Buku saya mengangkat tradisi dan sejarah Indonesia Timur, mulai dari Maluku, Maluku Utara, Papua, hingga NTT. Cerpen-cerpen itu saya tulis sejak 2016 sampai 2019,” ungkap Wika.

Bincang Sastra dan Bedah Buku kali ini dimoderatori oleh Aufel yang cukup lihai memandu jalannya diskusi . Aufel bahkan turut mengkritisi buku tersebut.

“Saya kok merasa sebagian banyak cerpen di buku ini cerita sad ending,” kata Aufel.

Wika sendiri baru menyadari bahwa banyak cerita dalam bukunya sad ending.

“Saya baru sadar, tetapi dari 19 cerpen dalam buku ini, ada beberapa enggak sad ending, kok. Sebenarnya, dari sad ending mengajak pembaca untuk bertanya-tanya, mengapa berakhir begitu?” ujar penulis kelahiran 2 Desember 1996 ini.

Deni sendiri memberikan tambahan komentar kritis, “Penulis banyak menyebut rempah, tetapi penulis tidak mengelola rempah itu. Lalu, catatan kaki sangat mengganggu. Bisa memberi catatan, tetapi bukan catatan kaki.”