Toni Lesmana: Menulis adalah Kesetiaan dan Kesabaran

Toni Lesmana: Menulis adalah Kesetiaan dan Kesabaran

Toni Lesmana menjalani proses menarik dalam dunia kepenulisan. Hal yang tidak diduga-duga kerap membuat ia terheran. Seperti saat ia berjumpa dengan para siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Yogyakarta dalam acara Bincang Sastra Milenial yang merupakan salah satu mata acara puncak Joglitfest 2019.

“Dan puisilah yang mempertemukan kita. Karya sastra selalu membawa ke tempat yang jauh dan tak terduga,” katanya saat membuka pembicaraan, Sabtu (28/9/2019).

Toni mengatakan ada dua tipe penulis dilihat dari segi proses, yakni penulis penyendiri dan penulis yang solider di komunitas. Toni termasuk penulis yang penyendiri.

“Ada cerita yang berbeda dengan Frischa Aswarini dan Kiki Sulistyo dalam berproses. Saya mulai menulis sendiri dan menggunakan bahasa daerah bukan bahasa Indonesia,” ujar Toni.

Mungkin karena medianya bahasa daerah, Bahasa Sunda tepatnya, ia tidak punya teman. Lebih tepatnya, tidak ada teman yang menulis dalam bahasa daerah. Dari situ ia banyak menyendiri dan tidak ada teman yang bisa diajak bicara atau berdiskusi.

“Dari sinilah saya belajar kesetiaan,” tegasnya.

Cerita menarik lainnya saat Toni duduk di bangku SMA. Katanya, dulu ada hukuman bagi siswa yang tidak memperhatikan pelajaran, yaitu dikeluarkan dan disuruh ke perpustakaan. Ia selalu tidak memperhatikan gurunya, dan memilih baca buku di perpustakaan. Sebab, di dalam buku, ada hal yang tidak bisa ditemukan di mana-mana, seperti saat ia bertemu dengan buku Chairil Anwar dan pengarang lainnya.

“Sampai suatu waktu saya berpikir bahwa saya mau menulis. Dan bacaan-bacaan itu yang mendorong saya untuk menulis,” kata Toni.

Hal kedua yang Toni lakukan setelah itu adalah mengirim ke media. Kebetulan, media yang memuat karya berbahasa daerah banyak. Di hatinya selalu ada keyakinan bahwa redaktur menjadi pembaca karya pertamanya. Ia menyakini bahwa redaktur akan membaca semua karya yang masuk.

“Dulu belum ada email untuk mengirim karya ke media. Kalau mau menulis harus menulis di mesin ketik, terus kirim lewat kantor pos. Sedangkan jarak kantor pos sangat jauh dari rumah. Kalau sekarang sudah tidak dialami oleh rekan-rekan karena perkembangan teknologi membuat anak sekarang nyaman. Dulu butuh perjuangan untuk mau mengirim ke media. Pelajaran yang sangat berarti dalam mengirim ke media adalah kesabaran,” terangnya.

Toni menerangkan bahwa karya yang dikirim ke media belum tentu bisa dimuat. Ia pernah mengirim satu tulisan pada tahun 1997 dan baru dimuat sepuluh tahun, yaitu pada 2007. Artinya,  tulisan juga menuntut penulis untuk bersabar. (Achmad Sudiyono Efendi)