Sulap dan Dongeng Penghibur

Sulap dan Dongeng Penghibur

Celotehan riang anak-anak memenuhi Pojok Baca Al-Abidin, Tuksono, Sentolo, Kulon Progo, (18/9). Sore itu, mereka akan mendengarkan Kang Acep Yonny membawakan dongeng. Namun sebelum itu, anak-anak berbalas pantun dengan MC. Mereka yang berani maju diberikan hadiah oleh panitia Joglitfest.

Tak lama kemudian, Kang Acep inaik ke atas panggung. Sebelum mulai mendongeng, ia menampilkan atraksi sulap. Dari tasnya, Kang Acep mengeluarkan kantung hitam. Diperlihatkannya kantung itu pada anak-anak.

“Kosong ya? Kosong ya?” Kang Acep memastikan.

Setelah mengucap mantra, ia meminta seorang anak untuk merohokan tangan ke kantong itu. Ternyata, di dalamnya ada uang Rp10.000,-. Anak-anak berseru takjub. Saat itu pula, sesi mendongeng dimulai.

Kang Acep bercerita tentang seorang anak, Bahlul, yang sangat malas pergi mengaji. Di saat teman-temannya sudah hapal berbagai surat Alquran dan doa-doa, si Bahlul baru bisa doa makan. Suatu hari, karena minder dengan teman-temannya, Bahlul melipir dari pengajian. Ia lari dengan cepat, tahu-tahu sudah masuk ke hutan terlarang. Di sana, ia malah membangunkan monster yang jahat.

Ketakutan, Bahlul langsung membaca doa. Namun kocaknya, yang ia baca justru doa makan.

“Hahaha! Kamu mau makan aku? Justru aku yang akan memakanmu!” seru Kang Acep meniru suara monster. Seketika itu, Bahlul berlari. Si monster mengejarnya sambil tertawa-tawa. Kang Acep menirukan monster raksasa berjalan, membuat anak-anak menjerit-jerit karena terbawa takut.

Bahlul kemudian bersembunyi di celah gua. Di sana, mengamati dinding gua yang cekung karena terus-menerus ditetesi air. Melihat itu, Bahlul mendapat ilham.

Jika batu yang keras saja lama-lama bisa cekung hanya karena tetesan air, manusia seharusnya bisa terbentuk juga kecerdasannya jika ditempa terus-menerus. Akhirnya, begitu pulang, Bahlul jadi rajin belajar dan mengaji.
“Begitulah kisah Bahlul, yang sebenarnya berasal dari kisah nyata kehidupan Ibnu Hajar al-’Asqalani. Sebab rajin belajar, ia kemudian menjadi ulama terkemuka yang sudah membuat banyak buku dan disegani oleh orang-orang,” tutup Kang Acep.

Setelah selesai mendongeng, Kang Acep kembali menampilkan pertunjukan sulap. Ia mengeluarkan buku kosong dari tasnya, lalu meminta anak-anak meneriakkan hewan yang mereka suka.
“Sekarang angkat telunjuknya! Gambar hewan kesukaanmu di udara!” seru Kang Acep. Beberapa saat kemudian, ketika bukunya dibuka, sudah ada gambar hitam-putih hewan-hewan yang tadi disebutkan anak-anak. Sekali lagi, Kang Acep meminta anak-anak mengangkat telunjuk. Kali ini, ia meminta anak-anak mewarnai gambar hewan itu.

“Hitung ya, satu … dua … tiga …!” Kang Acep mengomando. Begitu dibuka, gambar-gambar hitam-putih tadi sudah berwarna. Anak-anak takjub. Sore itu barangkali jadi sore yang tak akan dilupakan oleh anak-anak di Tuksono.