Sinar Krisna Indrawan: Jangan Kejar Kesempurnaan Geguritan

Sinar Krisna Indrawan: Jangan Kejar Kesempurnaan Geguritan

Barangkali karena pesertanya anak-anak muda, Workshop Sastra Jawa untuk pelajar SMA dan sedejarat di Hotel Melia Purosani, Yogyakarta (28/9/2019) berlangsung penuh canda.

Sinar Indra Krisnawan, pemateri yang juga merupakan anggota aktif di komunitas Suka Lelangen Edining Kabudayaan (SLEnK) membawakan materi Geguritan dengan menggunakan bahasa Jawa Krama.

Menurut Sinar, geguritan ialah karya sastra Jawa modern pendek dan ditulis dengan bait-bait yang indah. Biasanya geguritan merisi kritik sosial, harapan, curahan hati, dan lain-lain.

Seperti macapat, geguritan mempunyai aturan guru lagu (rima seperti a-b-a-b) di tiap ujung baris, guru wilangan (jumlah suku kata dalam setiap baris), dan guru gatra (jumlah baris dalam setiap bait). Namun, aturan itu tidak begitu ketat.

“Geguritan disebut sebagai puisi Jawa modern karena tidak terikat oleh aturan (yang ketat seperti macapat),” terang Sinar.

Sinar kemudian memberikan tips pada para peserta tentang dua cara menulis geguritan.

Pertama, cari ide tulisan. Ide bisa didapat dari situasi sekitar, mengingat peristiwa masa lalu. Pada saat yang sama, rasakan suasana hati, apakah sedang jengkel, stres, bahagia, atau lainnya.

Kedua, jika sudah mendapat ide, carilah diksi yang bagus. Bisa pula menambahkan rima agar geguritan menjadi lebih liris. Kurangi kata-kata yang tidak begitu penting.

Sinar menambahkan, geguritan yang baik seharusnya multitafsir. Artinya, jika ada sepuluh orang yang membaca suatu geguritan, maka akan ada 11 penafsiran. Hal ini bisa dilakukan dengan membuat geguritan lebih universal.

“Hindari bentuk terikat seperti ‘-ku’, ‘-mu’, dll. Misal dalam geguritan kita menulis ‘ibuku’, ganti jadi ‘ibu’ saja. Kan yang punya ibu bukan cuma penulisnya,” jelas Sinar.

Yang terakhir, Sinar berpesan agar para penulis tidak mengejar kesempurnaan dalam berkarya. Sebab, proses penulisan jauh lebih penting dari hasil tulisan.

Workshop Sastra Jawa ini dihadiri 60 peserta yang berasal dari SMA dan sederajat di Yogyakarta.

Menghidupkan pelatihan sastra Jawa adalah salah satu agenda Joglitfest 2019 sebab selama ini, sastra Jawa dan sastra Indonesia sangat jarang berada dalam satu acara yang sama.