Sebuah Kebiasaan Baru: Menulis Aksara Jawa di Layar Gawai

Sebuah Kebiasaan Baru: Menulis Aksara Jawa di Layar Gawai

Ini hari ketiga siswa-siswi sekolah menengah Yogyakarta mengikuti Workhsop Sastra Jawa Joglitfest 2019. 50 siswa dan 10 guru yang mendampingi membuka laptop di sesi 7 menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait dengan bahasa dan aksara Jawa. Bukan pekerjaan mudah.

Mereka mengerjakan tugas dari Setya Amrih Prasaja, budayawan bahasa Jawa yang menjadi pemateri Workshop sesi 6 dan 7 pada Minggu (29/9/2019), mulai pukul 08.00 WIB di Hotel Melia Purosani Yogyakarta. Temanya adalah “Aksara Jawa di Era Digital dan Aplikasi Windows dan Android terhadap Kemajuan Aksara Jawa”.

Untuk menulis aksara Jawa di perangkat gawai, seseorang tidak perlu memerhatikan jenis font. Tidak perlu menggunakan spasi juga sebab prinsip penulisannya adalah scripta continua.

Guru Bahasa Jawa dari SMK Kota Yogyakarta, Arpeni Rahmawati, menanggapi sesi ini secara optimistis. Siswa-siswinya yang ikut diharap mampu menjadi agen penyebar aksara Jawa ke ruang media sosial.

“Sekarang mereka berlatih menulis aksara Jawa di laptop dan gawai. Besok, mereka bisa bikin status di Facebook atau Instagram menggunakan aksara Jawa,” ucap Arpeni.

50 siswa peserta workshop berasal dari 10 sekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Setiap sekolah mengirim lima siswa perwakilan yang dinilai mampu dan memahami aksara Jawa. Bisa dibilang, peserta workshop sudah punya bekal ilmu sastra Jawa sebelumnya.

Setya berharap Aksara Jawa dapat bangkit, dikenal masyarakat internasional layaknya huruf kanji. Karena, setiap bangsa punya aksara sendiri. Aksara Korea bisa terkenal. Aksara Jawa juga seharusnya bisa dikenal.

“Silakan, setelah workshop ini, adik-adik sebarkan aksara Jawa ke teman-temannya. Siapa tahu algoritme Google akan mendeteksi tren baru ini sehingga aksara Jawa semakin meluas,” pungkas Setya.