Sastra untuk Lingkungan

Sastra untuk Lingkungan

Malam Sabtu (13/9) itu cerah. Langit biru kelam, bintang tidak terlihat, angin berembus pelan. Malam itu, Sastra Bulan Purnama edisi ke-96 di Amphiteather Tembi Rumah Budaya, Dusun Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul berlangsung hangat. Orang-orang merayakan launching buku kumpulan puisi dari Chairul Anwar, Investigasi Pohon-Pohon dengan pembacaan karya-karya dalam antologi tersebut.

Chairul menyampaikan bahwa buku puisinya itu lahir dari keprihatinannya melihat kerusakan alam yang semakin parah.

“Dari tahun 2014 saya mengamati berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh, Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Papua, Kalimantan Barat, itu kebakaran hutan tiap tahun tidak pernah berhenti. Dan 90 persen penyebab kebakaran itu karena ulah manusia sendiri,” ungkapnya.

Setelah menyampaikan sambutan, Chairul Anwar membuka pertunjukan dengan membacakan dua puisinya, “Prolog” dan “Epilog”. Puisi “Prolog” mengambil sudut pandang pohon yang tidak berdaya ketika ditebangi manusia untuk kepentingan ekonomi dan kemunafikan manusia bermodal ekonomi yang mengeksploitasi hutan. Sementara itu, puisi “Epilog” mengambil sudut pandang manusia yang mengkritik praktik kapitalisme yang mengesampingkan keberlanjutan (sustainability) alam.

Sebagai dosen di Jurusan Teater Institut Seni Indonesia Yogyakarta, para kolega di kampus dan mahasiswa-mahasiswinya juga turut hadir sebagai pengisi acara. Setelah Chairul Anwar turun panggung, dua mahasiswanya, Viki dan Intan membacakan fragmen “Pejuang Cinta”. Fragmen tersebut bercerita tentang dua muda-mudi yang sering beradu mulut ketika bertemu, tetapi pada akhirnya mereka berpacaran. Ceritanya masih membawa isu lingkungan.

Pertunjukan pembacaan puisi dilanjutkan oleh Agus Ley-loor yang juga adalah dosen Jurusan Teater ISI Yogyakarta. Pria nyentrik itu membawakan “Buah Duren Pecah di Tanah” dan “Bagaimana Aku Akan Tahu?”. Panggung tidak kosong lama karena setelah itu, fragmen komedi “Buka Kedok” dibawakan dengan kocak oleh Muhlis Muarif, mahasiswa Chairul Anwar yang berlogat Riau. Ceritanya tentang seorang istri yang berkomplot dengan pembantunya, Iyem, untuk menangkap basah sang suami yang senang berselingkuh. Di akhir penampilannya, Muhlis menyampaikan kondisi lingkungan di Riau yang memprihatinkan akibat kebakaran hutan.

“Tak nampak jalan karena asap,” curhat Muhlis.

Di bawah terang bulan purnama, berturut-turut pertunjukan dilanjutkan dengan pembacaan puisi “Lagu Sedih Pohon Cemara” oleh Evi Putrianti, fragmen “Aku Masih Mencintaimu” oleh Sulaiman dan Miftahul Jannah, lalu deklamasi puisi yang cukup dramatis oleh Eko Winardi, pemain teater dan aktivis yang baru terlibat dalam Teater Perdikan yang memainkan naskah Emha Ainun Nadjib. Pembacaan “Sepasang Merpati Mencari Bayi” dan “Pesan Ikan Mujair kepada Jeram” diikuti gerak tubuh Eko yang organik meniru burung terbang, anak-anak merpati yang mendongak-menganga minta dilolohkan makanan, hingga merpati tidur mampu membuat penonton senyap dan memusatkan perhatian pada dirinya.

Lewat karya-karyanya tersebut, Chairul Anwar ingin orang-orang memiliki kepekaan terhadap permasalahan lingkungan yang kini genting.

“Kita berintrospeksi bahwa lingkungan hidup itu harus menjadi suatu hal yang berkelanjutan atas pembudayaan dan pemberadaban,” harapnya.