Sastra Jawa dan Remaja Tidak Sejauh Itu

Sastra Jawa dan Remaja Tidak Sejauh Itu

Para peserta Workshop Sastra Jawa untuk pelajar SMA dan sederajat di Hotel Melia Purosani, Yogyakarta (28/9/2019) mencintai sastra Jawa. Setidaknya, hal itu dapat dilihat dari antusiasme mereka dalam menerima dan mempraktikkan materi penulisan geguritan oleh Sinar Indra Krisnawan. Meskipun kebanyakan hadir sebab ditunjuk oleh guru, para peserta mengaku menikmati workshop hari itu.

“Acara ini bikin nyaman peserta. Bagus juga untuk nambah pengalaman peserta yang mungkin belum luas soal sastra Jawa,” komentar Rafael Raga Budi P., siswa SMKN 2 Yogyakarta.

Rafael mengaku sudah sejak lama tertarik dan menekuni sastra Jawa. Ia sendiri pernah beberapa kali memenangi perlombaan sastra Jawa, seperti juara satu lomba pembacaan cerkak tingkat Kota Yogyakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia berharap workshop seperti ini bisa diadakan rutin, entah tiap tahun atau kalau bisa tiap bulan.

Rafael juga menyatakan keinginannya untuk terus fokus memelajari sastra Jawa. Ia ingin melanjutkan kuliah di Pendidikan Bahasa Jawa Universitas Negeri Yogyakarta.

Sementara itu, Queen Quantum, pelajar dari SMAN 10 Yogyakarta mengaku memiliki ketertarikan terhadap sastra Jawa untuk membantu melestarikannya.

“Kita kan sudah mau masuk generasi alfa. Kalau sastra Jawa nggak diuri-uri, siapa lagi yang mau kalau bukan kita?” ujarnya.

Remaja yang sering disapa dengan nama Qiu itu merasa materi yang didapatkannya dalam workshop ini sangat berbeda dengan apa yang diberikan guru di sekolah. Menurutnya, di sekolah guru lebih menekankan pada teori sementara di wokshop ini, ia betul-betul dilatih untuk membuat karya geguritan dan mengaplikasikannya.

Ke depan, Qiu tetap ingin mendalami dan menyebarluaskan sastra Jawa dengan isntrumen yang familiar, seperti media sosial.

“Sastra Jawa itu sebenarnya enggak sejauh itu dari anak muda. Meskipun sekarang zaman milenial, lagu yang digandrungi dari Barat, tapi teman-temanku masih banyak yang dengerin lagu-lagu Jawa,” terangnya.

Raden Rara Kartika, siswa SMAN 2 Wates, juga memiliki pandangan yang sama dengan Qiu. Baginya, workshop ini lebih menarik karena ia langsung diminta membuat geguritan setelah menerima materi. Teman sebelah bangkunya, Rahmawati Dyah Islami dari SMAN 2 Playen, juga setuju. Selain karena langsung praktik, ia jadi bisa bertemu siswa dari sekolah lain dan mendapat teman baru.

Keduanya juga memberikan pendapat tentang banyaknya geguritan peserta workshop yang mengangkat tentang cinta. Menurut mereka, pada masa SMA, bibit-bibit cinta bagi remaja mulai tumbuh sehingga cinta menjadi sesuatu yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Mereka mengaku jadi lebih tertarik dengan sastra Jawa setelah mengikuti workshop ini. Rahma bahkan ingin mencoba melanjutkan menulis geguritan untuk dikirimkan ke media massa.

“Kita ini ‘kan orang Jawa dan budayanya juga kental, jadi harus kita lestarikan,” tambah Kartika.