Sastra dalam Dunia Digital

Sastra dalam Dunia Digital

Nanang Suryadi pernah memopulerkan sastra di dunia maya saat belum banyak praktisinya pada akhir dasawarsa 90-an. Kini, pengguna internet demikian banyak sehingga situasinya sudah jauh berbeda.

Hal tersebut diungkapkan dalam sesi kedua mata acara Seminar Sastra, yang juga menghadirkan penyair Ahda Imran. Ada dua tema yang diusung serentak, yaitu “Dinamika Sastra di Dunia Maya” dan “Makna Sastra di Dunia Nyata”.

Bagi Nanang, perkembangan sastra di dunia maya saat ini sudah lebih jauh dari kemungkinan-kemungkinan  yang pernah ia cermati pada awal 2000-an, saat ia, Saut Situmorang, dan beberapa kawan lainnya membuat Cybersastra.netSaat ini pengguna internet jauh lebih luas dari masa itu.

“Media sosial banyak digunakan oleh para penulis sastra untuk memperluas jaringan antarpenulis walaupun mereka tidak menampilkan karya-karya sastranya di sana,” ucapnya.

Keberadaan awal media sosial membuat minat terhadap buku fisik meningkat. Hal tersebut membuat industri buku cetak lebih ramai daripada e-book yang sempat dikhawatirkan menggerus pasar buku konvensional.

“Di media sosial, seperti Facebook, banyak muncul grup komunitas sastra yang menampilkan karya-karya sastra dan selanjutnya dikumpulkan menjadi buku,” ungkap Nanang.

Sementara itu, bagi Ahda Imran, dunia maya (atau dunia digital) adalah bagian dari dunia nyata dan bahkan saling memengaruhi. Karenanya, ukuran bagus tidaknya sebuah karya bukan soal penting dalam dunia maya.

Bagi Ahda, dunia maya adalah dunia yang mengutamakan kemasan. Saat ini, batas antara dunia maya dan dunia nyata begitu tipis, hampir tidak ada. Selain itu, dunia digital membuat penulis dan pembaca tidak lagi berjarak. Penulis dan pembaca bisa bertemu di platform media sosial dan saling berinteraksi.

“Kehadiran pengarang di media sosial bisa dipahami sebagai usaha membentuk brand personal,” ucap Ahda.

Hal ini berguna bagi penulis untuk mengetahui siapa saja pembacanya dan bagaimana mereka menanggapi karyanya.