“Saksi Mata” Karya Seno Gumira Ajidarma dalam Lukisan Arwin Hidayat

“Saksi Mata” Karya Seno Gumira Ajidarma dalam Lukisan Arwin Hidayat

“Sebenarnya, saya mengerjakan karya itu simpel saja. Saya harus memahami lagi alur ceritanya. Saya ambil karakter-karakter gambar yang ruwet dan terkesan seram karena dalam buku itu sendiri memang hampir demikianlah ceritanya,” demikian pengakuan Arwin Hidayat, salah seorang pelukis dari Yogyakarta yang terlibat dalam perhelatan puncak Joglitfest 2019.

Jika pada Senin (30/9/2019) kita melangkah dari arah Taman Budaya Yogyakarta (TBY), tepat sebelum melewati gerbang, mata akan disuguhi sesuatu yang sedikit berbeda dari hari-hari sebelumnya: tenda angkringan yang berlukiskan karakter-karakter ruwet dan terkesan menyeramkan sebagaimana diungkapkan Arwin. Lukisan tersebut adalah hasil tafsir atau alih wahana cerpen “Saksi Mata” karya Seno Gumira Ajidarma.

Arwin terlibat dalam Rupa Sastra yang merupakan bagian dari kegiatan Sastra di Ruang Publik Joglitfest 2019. Rupa Sastra sendiri diwujudkan dalam bentuk pemasangan/pameran/visualisasi berbagai kutipan yang diseleksi oleh kurator dari puisi, cerpen, novel, dan naskah drama karya para pengarang Yogyakarta. Karya tersebut kemudian dipajang atau dipublikasikan di berbagai ruang publik seperti stasiun, bandara, terminal, kampus, jalan, dan tempat-tempat strategis lain di wilayah Kota Yogyakarta.

Latarnya berwarna cokelat, dan karakter-karakter dipoles dengan warna putih. Hanya dua warna, seakan mewakili benar suramnya suasana dalam cerpen.

“Saya sendiri terkadang bingung, dalam arti enggan menggambar secara datar sebagaimana ilustrasi buku-buku cerita yang mudah ditebak maknanya. Hampir 50% karya itu saya improvisasi, tak reko-reko dewe, karena menurut saya agak susah membuat ilustrasi seperti komik. Jadi, ya sudah, saya buat seperti karya lukis saya yang ada unsur ‘naif’nya sedikit. Dan agar sesuai dengan cerita yang agak ‘buram’, saya pakailah dua warna, sebab khawatir jikalau kebanyakan warna, nanti ndak mewakili benar isi ceritanya,” jelas seniman kelahiran Yogyakarta, 12 April 1983 itu.

Sebelum terpajang di muka TBY, Arwin telah menggarapnya terlebih dahulu di area Museum Benteng Vredeburg yang dijadikan pusat kegiatan Joglitfest 2019. Penggarapannya berlangsung sehari (Jumat, 27/9/2019), beberapa jam sebelum Grand Opening perhelatan.

“Saya mengerjakan semua karya tanpa beban, termasuk ‘Saksi Mata’ karya Seno ini. Ketika menggambar, saya biarkan mengalir saja. Sebab, apa gunya berkarya jika ada beban? Bisa jadi, malah tak maksimal nantinya. Modal berkarya ‘kan semangat dan rasa bahagia. Ide akan keluar sendiri. Dan prinsip itu saya tanamkan sejak mulai berkesenian. Itu sudah jadi jalan hidup saya, nganggo golek pangan, sampai hari ini,” tandas pria yang sejak kecil memang telah memiliki hobi melukis itu. (Ilham Rabbani)