Raudal Tanjung Banua: Penyair Itu Memperjuangkan Kata

Raudal Tanjung Banua: Penyair Itu Memperjuangkan Kata

Sekira 40 muda-mudi duduk bersaf-saf di Asrama Komunitas Kutub, Cabeyan, Sewon, Bantul, Yogyakarta (20/8). Pukul 09.35, Workshop Penulisan Puisi yang diampu sastrawan Raudal Tanjung Banua dimulai. Pagi itu, sastrawan yang baru memenangi Malam Jamuan Cerpen Kompas 2019 pada 28 Juni 2019 lewat cerpen  “Aroma Doa Bilal Jawad” mengenakan kemeja biru lengan panjang.

“Yang diperjuangkan pertama kali dalam menulis puisi adalah kata,” ujar  Raudal membuka diskusinya. Baginya, kata adalah elemen penting selain rasa dalam menulis puisi. Kata yang dituliskan adalah kata dengan makna dan arti, lalu pembaca yang akan menafsirkannya.

“Seorang penyair akan memperlakukan kata dengan sehormat-hormatnya, tetapi tanpa kehilangan hasrat untuk bermain-main dengan kata,” jelasnya lagi. Meski begitu, Raudal menegaskan, bukan berarti penyair bebas memakai semua kata yang terlintas dalam pikirannya. Karena itulah, kata yang dipilih tidak lepas dari wawasan dan pengetahuan penyair.

Selain pemilihan kata, Raudal juga menekankan pentingnya ekologi kata. Yakni, pengelompokkan kata-kata berdasarkan tema atau suasana yang ingin dibangun dalam puisi. Bagi Raudal, salah satu kelemahan penyair adalah terlalu bebas mengambil kata apa saja untuk dimasukkan dalam puisinya.

“Padahal, puisi utuh membutuhkan ekologi kata yang pas. Misalnya, ketika Anda menulis latar pegunungan dengan sungai, pohon cemara, udara sejuk, Anda tidak bisa tiba-tiba melompat ke suasana laut. Anda harus betul-betul mengintensifkan kata-kata yang ada di gunung tanpa harus meminjam dari ekologi kata lain.”

Namun, Raudal menambahkan, bukan berarti seorang penyair tidak bisa menulis dengan dua latar ekologi yang berbeda. Salah satu cara untuk menyatukan dua ekologi ini adalah dengan menciptakan plot lewat perumpamaan. Raudal memberi contoh spontan,

 

Batu gunung itu / mengingatkanku / pada batu karang di pantai //

 

Raudal mempraktikkan pemilihan diksi awal untuk sebuah puisi. Ia meminta peserta memberi satu tema, yang dibalas dengan usulan dapur. Kemudian, peserta mengusulkan beberapa kata yang memiliki asosiasi dengan ekologi dapur. Beberapa kata kemudian terkumpul, seperti aroma, hangat, tungku, asap, pisau, api, tangis, tikus, pecah, hingga periuk. Kata-kata ini kemudian dipilih berdasarkan arti, keunikan bunyi, hingga liris yang tercipta saat dua atau lebih kata-kata itu digabungkan.

Setelah kata-kata yang dianggap sesuai terpilih, peserta diminta memasangkan kata-kata tersebut hingga menciptakan metafora. Dari sana, bait demi bait puisi mulai muncul.

Workshop Penulisan Puisi ini merupakan pra-acara pertama dari rangkaian acara Jogja Literary Festival (Joglitfest) yang akan berlangsung hingga 30 September 2019. Festival Sasta Jogjakarta ini adalah event tahunan dan tahun ini adalah tahun perdana penyelenggaraan acara ini. Tema event kali ini ialah “Gregah Sastra” yang berarti “kebangkitan, kesiapsediaan, atau ketangkasan dalam menyambut dan menyerap sesuatu yang datang dari luar”.

Selain di Komunitas Kutub, beberapa workshop rangkaian pra-acara Joglitfest akan dilaksanakan juga di Warung Mojok, Kampung Buku Jogja, hingga Kedai JBS. Materi-materi yang diberikan masih seputar penulisan, yakni penulisan novel oleh Mahfud Ikhwan, penulisan esai oleh Kris Budiman, dan penulisan Puisi oleh Joko Pinurbo. Jadwal selengkapnya silakan klik di sini. (Fit)