Proses Kreatif: Menulis, Media Massa, dan Media Sosial

Proses Kreatif: Menulis, Media Massa, dan Media Sosial

Panggung Pasar Sastra hari pertama Joglitfest (27/9/2019) dibuka dengan diskusi bersama Safar Banggai dan Komang Ira Puspitaningsih. Diskusi tentang proses kreatif tersebut digelar di selasar Benteng Vredeburg di sisi utara. Dipandu Mawaidi, mantan direktur Cantrik Pustaka, diskusi berjalan khidmat.

Pertama-tama, Safar menangapi pertanyaan Mawaidi tentang ketertarikannya menulis fiksi.

“Awalnya, saya belajar menulis esai dan banyak membaca fiksi, mulai dari  novel dan puisi hingga cerpen. Kalau menulis esai, hanya menulis analisis suatu masalah dan gagasan atau pemikiran penulis. Sedangkan dengan fiksi saya bisa menceritakan apa yang tidak bisa ditulis dalam bentuk esai,” kata Safar.

Cerita, bagi pria yang lahir di Pulau Pasubebe tersebut, punya tuntutan dalam hal membuat plot dan membangun tokoh. Karena itu, ia pun tidak mau ambil pusing untuk harus tembus di media arus utama.

“Sebelum buku saya diterbitkan, mula-mula saya mendiskusikan cerita saya bersama editor (Alfin Rizal) dan penerbit Pojok Cerpen,” katanya.

Dari diskusi-diskusi tersebut, terpilihlah 12 cerpen dengan tema tentang laut–dari 20 cerpen yang telah dipersiapkan–dalam buku Nelayan Itu Berhenti Melaut.

Safar mengaku bahwa ia tidak mampu menulis tentang kota atau tema urban. Ia kadang heran jika teman-temannya menanyakan mengapa memilih menulis tentang laut.

“Padahal, Indonesia sendiri dikelilingi laut,” terangnya.

Berbeda dengan Safar, Ira–sapaan Komang Ira Puspitaningsih–sering memublikasikan tulisannya di media massa sejak SMA hingga kuliah. Walaupun begitu, penulis buku Kau Bukan Perawan Suci yang Tersedu ini tidak melulu bergantung pada media massa. Bagi Ira, tulisan yang bagus tidak melulu lahir dari media massa arus utama.

“Seandainya zaman dulu seperti zaman sekarang, saya memilih menulis di blog,” ungkapnya.

Namun, ia mengakui, sebagai orang yang bergiat di dunia penulisan, penting juga untuk bisa lolos di media konvensional.

Selain terus menulis di medium apa pun, banyak penulis saat ini aktif di media sosial. Namun, Safar mengaku berhenti menggunakan media sosialnya dan lebih memilih untuk membaca buku.

“Kalau saya membuka media sosial, pasti banyak perbincangan yang mengganggu proyek saya selanjutnya,” ungkap Safar. (Achmad Sudiyono Efendi)