Platform Kebudayaan Indonesiana

Platform Kebudayaan Indonesiana

Pada April 2017 lahir Undang-Undang No.5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan (Undang-undang Pemajuan Kebudayaan) yang menjadi penanda dimulainya babak baru di bidang kebudayaan. Undang-undang Pemajuan Kebudayaan, memperkuat kewajiban negara untuk memajukan kebudayaan nasional sebagaimana diamanatkan pasal 32 ayat (1) Undang-undang Dasar 1945. Undang-undang ini menjadi pedoman bagaimana memajukan Kebudayaan Nasional secara menyeluruh dan terpadu melalui Perlindungan, Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan. Berangkat dari kesadaran ini, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menggagas Platform Indonesiana, suatu mekanisme pengelolaan terpadu atas festival atau kegiatan budaya yang diselenggarakan Pemerintah Daerah dan didukung oleh Pemerintah Pusat serta dilaksanakan oleh seluruh pemangku kepentingan dalam satu wadah kerja bersama.

Indonesiana merupakan Platform Gotong Royong Kebudayaan, yang mengkonsolidasikan penggunaan sumber daya pembangunan kebudayaan secara strategis. Indonesiana tidak dimaksudkan untuk menyeragamkan festival atau kegiatan budaya di Indonesia, melainkan memperkuat ekosistem kebudayaan, meningkatkan kualitas dan mengamplifikasi dampak dari tiap-tiap festival atau kegiatan yang terhimpun di dalamnya. Indonesiana juga bukan merupakan sebuah festival, tapi mendukung kegiatan budaya yang strategis untuk menciptakan dampak pada penguatan ekosistem kebudayaan.

Selain unsur gotong royong dan keterhubungan, unsur yang juga harus dipenuhi adalah  eksosistem kebudayaan. Karenanyalah maka setiap kegiatan kebudayaan yang berpijak pada Platform Indonesiana bukan sebatas keramaian atau pertunjukan kebudayaan, namun juga memiliki ‘tugas’ menciptakan dampak yang memperkuat ekosistem kebudayaan.

Pada tahun 2018, Platform Indonesiana sudah diterapkan di 9 wilayah, dan tahun 2019 bertambah menjadi 10 wilayah. Adapun festival yang didukung antara lain: Festival Sindoro Sumbing di Temanggung dan Wonosobo; Festival Tradisi Lisan Adi-Adi di Oku Selatan (Sumatera Selatan); Cerita dari Blora di Blora (Jateng); Foho Rai Festival di Belu (NTT); Festival Inerie di  Ngada (NTT); Jakarta International Literary Festival di DKI Jakarta; Festival Lamaholot di Flores Timur (NTT); Festival Saman di Gayo Lues, Aceh; Festival Seni Multatuli di Lebak (Banten); Festival Panji di Jawa Timur; Festival Budaya Bumi Reyog di Ponorogo; Festival Caitra Majapahit di Mojokerto; Silek Art Festival di Sumatera Barat; Festival Rera Tumding di Halmahera Barat; Amboina Music Festival di Ambon; Pesta Kolintang di Tomohon; Gurindam Dua Belas di Tanjung Pinang, dan lain-lain. Khusus untuk Daerah Istimewa Yogyakarta, Platform Indonesiana mendukung Jogja Literary Festival (Festival Sastra Yogyakarta).

Sastra merupakan salah satu objek pemajuan kebudayaan yang mempunyai peran besar dalam membangun peradaban masyarakat. Ekosistem sastra kontemporer dan tradisi di Yogyakarta sangat kuat ditandai dengan banyaknya komunitas sastra yang tumbuh, karya sastra yang dilahirkan serta penerbit independen terus bermunculan. Sayangnya, belum pernah ada festival yang khusus mengangkat objek pemajuan kebudayaan sastra di Yogyakarta. Diharapkan melalui kerja sama antarpihak, yaitu Dirjen Kebudayaan RI melalui Platform Indonesiana, Dinas Kebudayaan DIY, masyarakat sastra dan berbagai lembaga lainnya,  sastra di Yogyakarta  menjadi salah satu poros sastra nasional dan dunia.