Pertunjukan Sunyi Rupa Sastra Joglitfest

Pertunjukan Sunyi Rupa Sastra Joglitfest

Sekira sepuluh orang duduk berdekatan di area rerumputan di bagian belakang Benteng Vredeburg. Suara mereka pelan, seakan enggan mengusik orang-orang di sekelilingnya. Di antara sepuluh orang itu, sesosok pria berdiri, mencuri perhatian.

Pria itu menggambar cepat di atas sebuah kertas. Gambarnya diproyeksikan ke layar lebar di belakangnya menggunakan mesin OHP. Ia dan sepuluh orang lainnya tengah melakukan pertunjukan kecil di sela Joglitfest pada Sabtu malam (28/9/2019) pukul 18.00 WIB itu.

Mereka mementaskan pertunjukan alih wahana teks novel Api di Bukit Menoreh karya SH Mintardja. Buku 001 (seri I jilid I), dengan adegan di rumah Ki Tanu Metir. Orang-orang yang duduk bertugas membaca teks novel sementata Yudha Sandy menggoreskan penanya untuk menciptakan gambar. Gambarnya berupa tubuh manusia yang menyerupai robot.

“Untara semakin lama semakin lemah. Meskipun demikian, ia selalu berusaha untuk mempertahankan kesadarannya. Sungguh tidak menyenangkan apabila ia harus mati karena darahnya kering. Baginya lebih baik mati dengan luka pedang menembus jantungnya. Tetapi ia tidak berputus asa. Ia percaya bahwa Allah Maha Pengasih. Karena itu, ia selalu memanjatkan doa di dalam hatinya, semoga Allah menyelamatkannya,” ucap seorang perempuan yang membaca.

Yudha terus menggambar. Ketika lembaran mikanya penuh, ia menggantinya dengan lembaran mika baru. Begitu seterusnya hingga lima lembar mika terpakai penuh gambar sepanjang pementasan.

Pertunjukan ini merupakan bagian dari Rupa Sastra Joglitfest. Mereka masih akan melangsungkan gambar live on the spot dua kali lagi pada petang hari. Pada Minggu (29/9/2019) mereka akan membacakan salah satu naskah karya Seno Gumira Ajidarma dan Senin malam (30/9/2019) akan membacakan Babad Trunajaya. Tentu saja, dengan menampilkan tukang gambar yang berbeda.