Pantomim, Belajar Berbagi Ruang dan Menghilangkan Egoisme

Pantomim, Belajar Berbagi Ruang dan Menghilangkan Egoisme

Pada sore di hari terakhir Joglitfest (30/09/2019), sekumpulan anak yang sama dengan dua hari sebelumnya kembali unjuk kebolehan. Mereka menampilkan pantomim berjudul Filosofi Kopi. Garis besar ceritanya tentang pelajaran membuat kopi.

Pertunjukan berlangsung di bawah tiang bendera depan pusat layanan Museum Benteng Vredeburg. Lewat parade gerak yang lucu dan menggembirakan, mereka ubah halaman benteng menjadi sebuah ruang tempat meracik kopi.

Nyaris di sepanjang pertunjukan, penonton tak pernah berhenti menyunggingkan senyum. Anak-anak itu menyusupkan kebahagian. Senin yang biasanya sibuk menjadi cair berkat permainan mereka, yang ruhnya terbuat dari perpaduan gerak atraktif dan kepolosan.

Pertunjukan tersebut menjadi penutup serangkaian penampilan mereka selama tiga hari di Joglitfest 2019. Hari pertama mereka menampilkan pelajaran mengarang, hari kedua tentang pelajaran menyusun cerita buat para kekasih, dan terakhir kisah pelajaran membuat kopi. Semua cerita itu diinspirasi oleh karya sastra para penulis Indonesia.

Yang menjadi penggerak anak-anak ini adalah Jamaludin Latief beserta Rumah Pantomim Yogyakarta. Jamal mengatakan bahwa mereka adalah siswa-siswi ekstrakurikuler pantomim SD Muhammadiyah Kleco, yang sudah berjalan dua tahunan. Selama masa Jamal melatih, ia tidak menekankan bagaimana anak-anak ini menjadi mahir menguasai keterampilan gerak.

“Justru kami lebih menekankan pada bagaimana anak-anak menyampaikan ide mereka lewat gerak. Penampilan kami tadi banyak lahir dari improvisasi mereka, di luar yang dilatihkan,” kata Jamal.

Menurut Jamal, anak-anak tersebut sangat menyukai pantomim karena gerak merupakan sesuatu yang sangat dekat dengan anak-anak. Bahkan pantomim bisa melatih kedisiplinan, kerjasama, berbagi ruang, dan menghilangakan egoisme.”

Lebih lanjut, Jamal memaparkan bahwa ekstrakurikuler pantomim menjadi yang paling meriah dan gayeng. Bahkan, dia bercerita bahwa ada satu siswa yang sempat demam dan tidak masuk sekolah, tapi berangkat berlatih pantomim pada sore harinya. (Rachman Habib)