Panggung Penyair Indonesia, Membaca Indonesia dan Segala Masalahnya

Panggung Penyair Indonesia, Membaca Indonesia dan Segala Masalahnya

Thendra BP menaiki panggung dengan menutup wajahnya menggunakan masker dan membawa sebuah sapu ijuk. Sebelum membacakan puisi, ia bercerita bahwa masker itu dibawanya langsung dari Sumatra Barat.

“Saya menggunakan masker ini semenjak keberangkatan. Di Sumatra Barat, dan hampir semua Sumatra, kini dipenuhi asap dari kebakaran hutan. Puisi yang akan saya bacakan adalah bentuk protes saya kepada segala bentuk pembakaran hutan di sana,” ujar Thendra.

Ia lalu membakar sapu ijuk yang mengeluarkan asap tebal dan membacakan dua buah puisi, salah satunya yang ia tulis mengenai asap dan kebakaran hutan.

Aksi pembacaan puisi itu merupakan rangkaian acara “Sastrawan Membaca” yang dilaksanakan di Panggung Kirdjomuljo, Benteng Vredeburg, pada Minggu (29/09) pukul 18.00-19.30. Sebanyak sebelas penyair dari berbagai daerah di Indonesia membacakan puisinya, dua di antaranya berasal dari Malaysia, Syahidatul Munirah dan Azrie Izham Hamzah.

Lain halnya dengan Aslan Abidin. Penyair dari Makassar, Sulawesi Selatan itu membacakan dua buah puisi yang bercerita tentang prostitusi dan permasalahan seksual. Dalam puisi Kelamin Lil Alamin, ia menampilkan berbagai latar sosial dan politik yang berkelebat di dalam prostitusi, mulai dari ekonomi hingga tekanan sosial dan politik. Tak lupa ia menambahkan, puisi ini “sebagai bentuk protes terhadap RKUHP yang hendak mengekang kita sampai pada selangkangan.”

Malam itu juga Syarifuddin Gani, penyair dari Sulawesi Tenggara, membacakan puisi berjudul Konawe, Pintu yang Terbuka. Puisi ini bercerita tentang bentuk multikulturalitas di Sulawesi Tenggara yang dihuni lebih dari lima suku, termasuk Tolaki, Buton dan Muna. Multikultralitas ini, yang juga disampaikan Gani dalam puisinya, terkadang menimbulkan perselisihan.

Turut juga membaca puisi Mikael Johani dari Jakarta yang menafsirkan 230 kata “Aku” di dalam 82 puisi Chairil Anwar ke dalam bentuk puisi postrukturalis berjudul Aku Speaking Man. Selain mereka adalah Iqbal H, Saputra dari Bangka Belitung, Willy Ana dari Bengkulu, M. Helmy Prasetya dari Madura, Fatih Muftih dari Banyuwangi, dan Amien Wangsitalaja dari Kalimantan Timur.

Mendengarkan para penyair yang hidup di berbagai daerah di Indonesia tersebut mengingatkan kita bahwa Indonesia masih memiliki bermacam persoalan yang perlu diselesaikan. Dan penyair, sebagai suara dari masyarakatnya, adalah mereka yang membuka dan mengajak kita memikirkan segala permasalahan itu. (Muhammad Aswar)