Otto dan Herlinatiens Menyoal Perempuan dalam Dunia Sastra

Otto dan Herlinatiens Menyoal Perempuan dalam Dunia Sastra

Setelah diskusi tentang proses menulis bersama Safar Banggai dan Komang Ira Puspataningsih, acara hari pertama Joglitfest 2019 (27/9/2019) dilanjutkan pada pukul 13.00 WIB dengan obrolan “Sastrawan Perempuan di Indonesia” bersama Herlinatiens dan Otto Sukatno CR di selasar Museum Vredeburg.

Moderator Mawaidi dan Alya memberi kesempatan pertama kepada Otto Sukatno CR. Penulis buku Kitab Makrifat ini begitu semangat membahas perempuan dari memori kolektifnya, yaitu  perempuan dari bacaan.

Bagi Otto, Rabi’ah al-Adawiyyah adalah ibu primordialnya. Rabiah memang tidak menulis puisi atau sastra, tetapi tulisan-tulisannya sangat bernilai sastrawi. Sementara itu, untuk konteks Indonesia, Otto sangat mengidolakan RA. Kartini. Kartini mampu melawan dunia patriarki pada  zamannya.

Otto melanjutkan, jika sistem masyarakat hadir dalam bentuk patriarki, siapa yang disalahkan? Manajemen rumah tangga itu dikuasai oleh perempuan. Sebenarnya, yang lebih dominan di Indonesia adalah perempuan. Perempuan punya kuasa lebih dari siapa pun.

“Hanya perempuan yang menjaga rahimnya yang terhormat,” tegas Otto.

Laki-laki selalu ada jeda untuk “bisa”, sedangkan perempuan tidak ada jeda.

“Bahkan, perempuan lebih kuasa daripada Tuhan,” tambah Otto.

Kalau kita tarik dalam dunia sastra, menurut Otto, perempuan lebih terkenal di dunia sastra. Mereka punya tempat khusus di dunia sastra. Karya sastra hadir karena kerinduan: rindu pada cinta, rindu pada tubuh, rindu pada yang lain-lain.

“Siapa pun, perempuan, saya tetap hargai karyanya,” kata Otto.

Sementara itu, bagi Herlinatiens, penulis buku Garis Tepi Seorang Lesbian, menyatakan bahwa pembahasan tentang  perempuan tidak terlepas dari sudut pandang mana yang digunakan.

“Saya bukan penikmat sastra ‘perempuan dan seksualitas,’” ucap Herlina.

Herlina tidak menolak ada keistimewaan perempuan dalam dunia tulis-menulis.

“Jika karyanya jelek, ya, katakan jelek. Jangan karyanya jelek, juga plagiat, lalu ia diundangkan ke mana-mana,” kata Herlina.

Menurutnya, banyak politisi di dunia sastra Indonesia. Perhargaan-perhargaan itu sangat politis.

“Saya sebagai penulis butuh kritikus sastra yang menyehatkan kami. Sebab, ada beberapa kritikus sastra yang menghajar aspek personal,” tambahnya.