Nirwan A. Arsuka: Problem Festival (di) Indonesia

Nirwan A. Arsuka: Problem Festival (di) Indonesia

Beberapa tahun terakhir, beberapa daerah di Indonesia kerap menggelar festival. Hal ini mengundang komentar Nirwan A. Arsuka saat memberikan Ceramah Literasi “Budaya Global-Lokal dalam Sastra” di Hotel Melia Purosani (29/9/2019).

“Yogyakarta mungkin bisa disebut sebagai kota di Indonesia yang relatif konsisten menegaskan maklumat Octavio Paz: kota yang paling ajek menggelar peristiwa seni sebagai aksi dan representasi kolektif,” ungkap Arsuka.

Peristiwa seni tersebut hadir dalam berbagai rupa festival, mulai Biennale Jogja sampai Art-Jog. Hal yang sama hendak dimunculkan pula dalam dunia sastra melalui Joglitfest.

“Sastra sebagai aksi kolektif sudah pernah diupayakan, jauh sebelum Joglitfest ini. Namun, baru kali ini bukan hanya menyatukan para seniman, pemerintah juga ambil bagian dalam penyelenggaraan,” papar Arsuka.

Festival, bagi inisiator Pustaka Bergerak Indonesia ini, tidak hanya sekadar rangkaian pertunjukan dan penampilan.

“Festival adalah bagian proses panjang pemantapan pengetahuan artistik dan kultural sekaligus medan merdeka bagi segala ekspresi kreatif,” ucapnya.

Oleh karena itu, festival harus memuat kritisme sekaligus menjadi metode untuk emansipasi sosial. Sikap optimistos Arsuka bukan tanpa kritik. Baginya, festival semakin disadari sebagai peristiwa reguler.

“Hal tersebut berisiko menggerus aspek transformatif dari festival sebagai perangkat perubahan sosial,” kata penulis buku Semesta Manusia ini.

Selain itu, Arsuka juga menyatakan bahwa begitu banyak festival, namun tanpa manfaat jelas bagi manusia.

“Kita berhadapan dengan tantangan festivalisme yang tak menyakinkan sebagai gelanggang emansipasi sosial dan tak mengesankan sebagai medan penciptaan,” tambah Arsuka.