Nasihat Kepemimpinan Asthabrata dalam Penampilan Gamasutra

Nasihat Kepemimpinan Asthabrata dalam Penampilan Gamasutra

Sekelompok mahasiswa sastra Jawa melantunkan geguritan di Panggung Kirdjomuljo Benteng Vredeburg. Mereka tergabung dalam kelompok Gamelan Mahasiswa Sastra Nusantara UGM (Gamasutra).

Sepanjang 20 menit, syair berbahasa Jawa dilafalkan, sesekali dinyanyikan, oleh anak-anak muda itu, pada Sabtu (28/9/2019) pukul 18.15 WIB dalam sesi Tadarus Naskah Kuna Joglitfest 2019.

Sembilan penampil, kebanyakan perempuan, melafalkan syair Jawa bergantian. Seorang perempuan bertugas menyanyi. Gamelan dipukul mengiringi penampilan. Mereka memadukan dramatic reading, geguritan, dan tembang kreasi. Dari atas panggung, suara Gamasutra menggema, terdengar membius sekaligus menenangkan pikiran.

Malam itu, Gamasutra menampilkan naskah Sestradisuhu dari koleksi Pakualamanm dari bait 1 sampai 14. Bait-bait itu berisi ajaran kepemimpinan Asthabrata.

Nora pegat wateke Yama wicaksuh,
nglunapsuh gelahing bumi,
bumintara maling malu,
malane kang densengiti,
wong celimut mbedhog calong.

Geguritan di atas merupakan bait 1 yang dibacakan dalam pementasan ini. Secara umum, pesan geguritan itu adalah nasehat bagi seluruh pemimpin.

Seorang pemimpin harus memiliki sifat adil dan tegas dalam penegakan hukum. Semua kejahatan, baik kecil maupun besar, baik kejahatan fisik maupun intelektual, wajib ia timbang secara adil.

Dia akan berbuat tegas pada siapa pun, bahkan keluarganya sendiri. Tidak ada satu pun orang yang lolos dari pantauannya.

Meskipun demikian, pemimpin itu akan memaafkan penjahat yang bertaubat. Namun, jika seorang penjahat kembali mengulangi kejahatannya setelah dihukum, pemimpin harus siap mengadilinya dengan hukuman lebih berat, bahkan hukuman mati.