Narasi Perjalanan dari Serat Jiwa dan Pembacaan Karya

Narasi Perjalanan dari Serat Jiwa dan Pembacaan Karya

Jika berkunjung ke Museum Benteng Vredeburg pada Sabtu sore yang syahdu (28/9/2019), tepatnya di Panggung Krijomulyo, Anda akan bisa menghikmati sajian musik instrumental dari Serat Jiwa.

Kelompok musik yang berdiri 2015 itu membuka helatan Pemanggungan dan Pembacaan Sastra Joglitfest 2019 hari kedua. Pemanggungan dan Pembacaan Sastra adalah salah satu program Joglitfest 2019 yang bertujuan untuk menampilkan ragam bentuk ekspresi alih wahana karya sastra, baik sastra Jawa maupun Indonesia.

Serat Jiwa, kelompok yang masyhur dengan alat musik tradisi dalam garapannya, membawakan lima reportoar bernuansa lingkungan dan alam. Kedua nuansa itu dijelmakan sebagai ruh narasi instrumental yang bercerita tentang perjalanan atau pencarian.

Repertoar berjudul Ranjana mengisahkan pencarian jati diri. Ada juga Nama-Nama, yang bertutur perihal pengembaraan ke masa lalu untuk menemukan kembali warisan luhur nenek moyang. Ada pula Jalan Sunyi dan Perjalanan Ke Langit. Hanya lagu Rumah Bersama yang tidak berkisah tentang perjalanan. Repertoar terakhir ini berkisah tentang keragaman dan kebersamaan.

Jika dicerap dengan penuh seluruh, nuansa alam di semua repertoar Serat Jiwa terasa mengalir lembut dari tiupan seruling dan petikan sape. Pada saat yang sama, imaji perjalanan dibangun melalui komposisi hentakan drum, nada akordion, dan tabuhan gendang. Semua itu menyusun dinamika cerita dalam melintasi rintang dan aral. Sayatan biola mereka terdengar seperti haru-biru batin seorang pejalan.

Selepas Serat Jiwa, beberapa sastrawan membacakan karyanya. Ada Mustofa W. Hasyim, Eko Purwanto, Afrida Yamanop, Budi Hutasuhut (Budi P. Hatees), Ulfatin CH, dan Andy Eswe.

Mustofa W. Hasyim membacakan puisinya dan sekaligus menerjemahkannya langsung ke Bahasa Jawa saat di atas panggung. Sementara itu, Andy Eswe, sebagai pemungkas, tampil lebih teatrikal.

Di antara keduanya, Budi Hutasuhut, sastrawan dari Lampung, membaca puisi tentang keberadaan perkebunan kelapa sawit yang mengirim jiwa-jiwa mengembara karena dilempari peluru.

Sementara itu, Ulfatin CH membaca puisi tentang Benteng Vredeburg tahun 1990-an, juga puisi berjudul Save Mahasiswa, karya tentang tentang mahasiswa yang mesti berhadapan dengan pagar-pagar betis dan peluru karet yang menembus dada. (Habib)