Mustafa Ismail: Ruang Menulis Milenial Melimpah

Mustafa Ismail: Ruang Menulis Milenial Melimpah

“Apa itu milenial, Anak-anak?” tanya Adrian Eska membuka diskusi Bincang Sastra Milenial Joglitfest 2019 di Madrasah Tsanawiyah Negeri 9 Bantul. Anak-anak usia sekolah menengah pertama, yang para peserta dalam kegiatan itu, menjawab serentak, “Tersakiti!”

Cuaca cerah. Karpet hijau di dalam musala sekolah makin menambah nuansa sejuk pagi Sabtu (28/9/2019) itu. Suasana makin purna dengan wajah ceria sekaligus khidmat para peserta. Adrian Eksa, sang moderator, dengan kelakar-kelakar segarnya pandai menghidupkan suasana.

Rangkaian kegiatan puncak Joglitfest 2019 yang bekerja sama dengan MTsN 9 Bantul itu dihelat sejak pukul 08.30 hingga 12.30 WIB. Nama-nama yang dihadirkan sebagai pembicara adalah Alfian Dippahatang, Ida Fitri, Irwan Segara, dan Mustafa Ismail.

“Milenial sebenarnya hanya istilah untuk mereka yang lahir pada awal 1980-an,” ucap Mustafa membuka perbincangan. Lalu, ia melanjutkan, “Perbedaannya apa generasi kini dengan dulu? Pada masa kami, untuk membaca sesuatu ya mesti dengan membeli koran, majalah, buku, dan sejenisnya.”

Ruang berkarya pada masa itu barangkali hanya majalah dinding sekolah atau media konvensional seperti koran. Untuk generasi sekarang, anak-anak diuntungkan oleh media atau ruang menulis yang tidak terbatas, semacam wall Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain, yang notabene itu semua bisa digunakan sebagai ruang berkarya.

Mustafa menegaskan, “Tidak ada alasan ‘tidak memiliki ruang untuk menulis’ bagi kalian. Ruangnya kian banyak!”

Adrian kemudian sedikit berkomentar, “Ketika ada workshop sebelumnya, kendala anak-anak mungkin klise, yaitu perkara ide dan sekitarnya.”

Mendengar pernyataan tersebut, Mustafa lantas memberikan penjelasan bahwa setelah seseorang memutuskan menjadi penulis, ia juga harus menjadi pembaca yang baik. Kunci utama menulis adalah membaca, baik yang tersurat seperti buku, majalah, koran, ebook, website-website, dan seterusnya, maupun yang tersirat, yakni membaca lingkungan.

Pasalnya, seorang seniman harus memiliki kepekaan lebih. Jika tidak, maka sang seniman tidak akan bisa menangkap hal-hal luar biasa dari bahan bacaan yang tersurat maupun tersirat itu. Imajinasi lantas berkembang dari pembacaan semacam itu.

“Nah ada yang sedang memegang botol air mineral? Pernah atau tidak, kalian coba membayangkan apa yang ada di baliknya? Bisa saja upah buruh yang tidak terlalu baik, anak-anak mereka lantas tak terbayar sekolahnya, dan seterusnya. Di balik sebuah benda, terdapat proses yang kian panjang andai kita baca. Pembacaan mendalam semacam itu, penting bagi seorang pengarang!” pungkas redaktur Koran Tempo itu. (Ilham)