Musikalisasi Sastra: Pementasan Lintas Kelompok, Lintas Kesenian

Musikalisasi Sastra: Pementasan Lintas Kelompok, Lintas Kesenian

Sehari setelah Musikalisasi Sastra “Jentera” digelar, Bincang-Bincang Sastra (BBS) edisi 168, acara tutin Studio Pertunjukkan Sastra (SPS) Yogyakarta, digelar sekaligus sebagai pra-acara Joglitfest, Ruang Temu: Pentas Sastra Lintas Komunitas. Fairuzul Mumtaz, pendiri sukusastra.com, memandu jalannya bincang-bincang tersebut.

Bagi Fairuz, hadirnya paduan suara dalam pergelaran tersebut merupakan hal baru. Salah satu hal baru tersebut salah satunya adalah karya sastra ditafsir ulang sebagai sebuah syair yang dinyanyikan sekaligus koreografi yang ditampilkan paduan suara.

Hal itu diamini oleh Sukandar, pegiat aktif SPS. Bagi Cak Kandar, sapaan akrabnya, SPS mencoba menampilkan pergelaran sastra yang belum dilakukan di Yogyakarta.

“Selalu mencoba segala kemungkinan konsep baru pementasan karya sastra,” ucap Cak Kandar.

Harapan Cak Kandar, pementasan tersebut menjadi ruang tegur sapa antar kelompok kesenian dengan karya sastra. Oleh karena itu, karya sastra yang dihadirkan pada malam lalu, tampil beragam. Mulai seni wayang, teater, musik hingga seni rupa.

Seperti halnya Api Kata Bukit Menoreh. Komunitas seni rupa Kulon Progo ini tampil menafsir ulang puisi dalam media lukisan. Bagi L. Surajiya, pegiat Api Kata Bukit Menoreh, lukisan tersebut adalah tafsir atas sebuah puisi yang kemudian juga menjadi multitafsir. “Pengalaman seseorang mempengaruhi cara membaca karya tersebut. Sebuah tafsir yang tidak pernah tunggal antara satu orang dengan yang lainnya,” ujarnya.

Bukan hanya kali ini Api Kata Bukit Menoreh tampil menafsir karya sastra, terutama puisi. Pada 2018 lalu, komunitas ini hadir sebulan penuh di Cafe Sugriwa Subali di Jalan Bhayangkara, Wates (2/4) dengan konsep yang hampir sama. “Bagi kami, sastra dan seni rupa adalah kesatuan. Kata dan rupa tidak dapat dipisahkan,” ungkap L. Surajiya.

Setelah itu, Gunawan Maryanto menceritakan konsep The Wayang Bocor. Bagi Gunawan, kata “bocor bukan tanpa alasan, namun itu sekaligus menjadi konsep dari pertunjukkan. “Kenapa bocor, karena ia bocor kemana-mana dan sangat cair mempertunjukkan lintas kesenian,” ungkap Gunawan. Walaupun begitu, konsep pertunjukkan ini fokus pada visual wayang yang ditampilkan.

Konsep lain juga hadir saat PSM Swara Wadhana tampil menggubah beberapa puisi. Lukas Gunawan Arga Rakasiwi, pelatih Swara Wadhana, menyatakan cukup kesulitan mengalihwahanakan karya sastra ke melodi musik. Mulai komposisi sampai melodi harus disusun rapi.

Selain paduan suara,  Swara Wadhana tampil dengan koreografi yang memukau. Teks-teks puisi tersebut juga ditafsir ulang dengan gerakan-gerakan tertentu tanpa harus kehilangan fokus ke kondakter yang selalu menjadi kewajiban sekaligus inti paduan suara.

Anisa, salah satu personel Swara Wadhana yang membacakan puisi saat penampilan, menyatakan pementasan tersebut adalah hal yang pertama kali dilakukan. “Kesannya puisi itu sulit, namun ketika dibawakan sebagai lagu, kita bisa tahu banyak hal-hal tentang kehidupan dalam puisi,” ungkap mahasiswi yang kini duduk di semester 5 Fakultas Seni dan Budaya (FBS) UNY.

Bagi Cak Kandar, kehadiran Musikalisasi Sastra menjadi ajang untuk mengenalkan kelompok sastra dan kesenian lain. “Harapannya bisa menjembatani kelompok-kelompok sastra atau kesenian yang belum banyak dikenal banyak orang,” ujar Cak Kandar.