Musikalisasi Sastra: Menafsir Sastra dengan Cara Berbeda

Musikalisasi Sastra: Menafsir Sastra dengan Cara Berbeda

Musikalisasi Sastra hadir kembali di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) (22/9) dengan tajuk “Jentera”. Pergelaran yang memadukan sastra dengan lintas kesenian itu ramai dipenuhi penonton di Gedung Concert Hall TBY. Bersama Studio Pertunjukkan Sastra (SPS) Yogyakarta, pergelaran ini menampilkan sastra di atas panggung dengan menafsir ulang segala kemungkinan baru dalam pertunjukan sastra dengan kesenian lain.

“Menilik kesuksesan Pergelaran Musikalisasi Sastra 2018 lalu yang mampu menarik antusiasme penonton generasi muda, maka Pergelaran Musikalisasi Sastra kembali digelar pada 2019 ini dengan konsep dan nuansa yang berbeda,” terang Latief S. Nugraha.

Selain itu, Drs. Diah Tutuko Suryandaru, Kepala TBY, mengapresiasi pergelaran ini. Baginya, pergelaran yang menggabungkan lintas kesenian ini agar sastra mudah diterima penikmatnya dengan medium berbeda.

“Karya sastra, terutama puisi, menjadi satu sajian yang kaya penafsiran musikal. Pertunjukan puisi melalui format ini akan menjadi mudah dinikmati, dikenal, dan dikenang,” ujar Diah Tutuko.

Tak berselang lama setelah sambutan-sambutan, penonton duduk dan pengumuman panitia agar tidak menyalakan lampu blitz kamera. The Wayang Bocor tampil dengan repertoar berjudul “Pertama di Ujung Tanduk”. Komunitas yang diinisiasi Eko Nugroho ini menafsir ulang puisi-puisi Gunawan Maryanto dalam buku puisi Sakuntala.

Pertunjukan tersebut menggabungkan seni wayang dan seni teater dalam satuan padu. Musik koplo lagu “Sayang” mewarnai penampilang The Wayang Bocor.

Setelah penampilan The Wayang Bocor selesai, Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Swara Wadhana UNY tampil menampilkan beberapa puisi. Tidak hanya menampilan puisi dengan cara berbeda, Swara Wardana menampilkan koreo yang tidak biasa ketika pembacaan puisi. Puisi-puisi tersebut dikreasikan dari puisi Chairil Anwar, Asrul Sani, Wisnoe Wardhana, dan tembang karya Ki Hadi Sukatno. Tepuk tangan riuh setiap saat satu puisi selesai dipertunjukkan.

Selain itu, Kelompok Kampungan tampil memungkasi acara. Kelompok grup musik folk legendaris Yogyakarta pimpinan Bram Makahekum ini kembali hadir dengan gabungan musik modern dan etnik yang sarat dengan kritik sosial. Penampilan yang mengambil tema “Berkata Indonesia dari Yogyakarta” itu disarikan dari puisi-puisi WS. Rendra.

Selain penampilan di atas panggung, Api Kata Bukit Menoreh tampil dengan lukisan di luar ruangan. Lukisan-lukisan tersebut merupakan respons atas beberapa karya puisi: puisi karya Subagio Sastrowardoyo, Darmanto Jatman, M. Thahar, Abdul hadi W.M. Ragil Suwarna Pragolapati, dan Endang Susanti Rustamaji hadir di atas kanvas sebagai sebuah seni rupa.