Musik dan Sastra pada Malam Ketiga Joglitfest

Musik dan Sastra pada Malam Ketiga Joglitfest

Hari ketiga kegiatan puncak atau main event Joglitfest 2019 (Minggu, 29/9/2019) di Panggung Kirdjomuljo di area Museum Benteng Vredeburg diisi oleh penampilan Buktu, Whani Dharmawan, Sha Inne Febriyanti, dan Agoni.

Buktu, band pasca-rock yang memiliki lirik-lirik multitafsir, tampil membawakan Fatamorgana, Aku, Kata-Kata di Pagar Kaca, dan musikalisasi puisi Panorama Kematian Ayah karya Afrizal Malna.

Tidak seperti band pada umumnya, Buktu tidak membawakan lagu yang berisi lirik dengan nada, melainkan lebih seperti pembacaan puisi dengan suara manusia yang dimodifikasi, diiringi musik cadas dengan tempo cepat.

Setelah itu, tampil Whani Dharmawan dan Sha Inne Febriyanti, masing-masing merupakan pemeran Darsam dan Nyai Ontosoroh dalam film Bumi Manusia yang rilis pada 15 Agustus 2019 lalu.

Keduanya membacakan naskah drama ciptaan Whani, Luka-Luka yang Terluka. Naskah itu bercerita tentang dua gelandangan, Mak Gerabik dan Mak Gerabuk, yang terus berdebat tentang matematika, fisika, numerik, DNA, hingga penciptaan alam semesta sambil mengejar bayangan mereka.

“Senang sekali saya datang ke acara yang hangat ini,” puji Sha Inne.

Meskipun baru membaca naskah itu dua hari sebelumnya, Sha Inne mampu menampilkan deklamasi yang menggugah dengan kedalaman emosi dan improvisasi nada yang tepat.

Naskah yang ditulis Whani saat berusia muda itu, bagi Sha Inne, memiliki substansi cerita yang berat. Ia berharap jika suatu saat ada forum yang bisa membuat keduanya menelaah isi cerita tersebut.

Malam itu ditutup dengan penampilan Agoni. Grup rock dari Yogyakarta itu membawakan Aku Harap Laguku, Kupu-Kupu Biru, dan musikalisasi puisi Saut Situmorang, Catatan Subversif Tahun 1998.

Di sela lagu, Fafa sang vokalis utama menyampaikan apresiasinya kepada para mahasiswa dan masyarakat sipil yang mau turun ke jalan untuk menuntut dicabutnya berbagai rancangan undang-undang yang bermasalah.