Menelaah Sastra dengan Kritik Sastra

Menelaah Sastra dengan Kritik Sastra

“Kritikus sastra adalah pembaca sastra,” ucap Kris Budiman di Workshop Penulisan Kritik Sastra yang diselenggarakan oleh Joglitfest bekerja sama dengan Kampung Buku Jogja (KBJ), Selasa, 3 September 2019.

Menurut Kris, kritikus sastra adalah orang yang menyampaikan hasil pembacaannya, terutama secara tertulis, kepada publik. “Modal awal seorang kritikus adalah kemampuan menulis,” ucap Kris.

Pada masa lalu, kritik sastra tampil sebagai kritik normatif. “Kritik normatif disebut kritik adjektival atau terlalu banyak mengumbar kata sifat,” lanjut Kris, “tetapi kritik sastra saat ini tidak lagi memakai metode tersebut. Kritik sastra saat ini lebih fokus menelaah untuk menghindari penghakiman terhadap sebuah karya.” Seorang kritikus sastra tidak berposisi lebih tinggi dari pembaca lain, bahkan dari si pengarang sastra itu sendiri.

Kris memberikan contoh kepada peserta workshop untuk membaca tulisan Katrin Bandel yang berjudul “Nyai Dasima dan Nyai Ontosoroh” yang pernah terbit dalam kumpulan tulisan Sastra, Perempuan, Seks terbitan Jalasutra (2006). Dalam tulisan tersebut, Katrin Bandel menelaah karya sosok Nyai Ontosoroh dalam karya Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer.

Alih-alih menghakimi, Katrin Bandel mencoba menelaah sosok yang dihadirkan Pram tersebut dalam kajian pasca-kolonial untuk melihat konteks zaman dan apa yang ingin disampaikan oleh pengarang dengan tokohnya.

Untuk menjadi seorang kritikus sastra, menurut Kris, yang pertama harus dilakukan adalah tersedia bahan atau data yang cukup. Data tersebut tak lain adalah karya sastra itu sendiri sebagai data primer. Selain itu, seorang kritikus sastra juga memerlukan data lain yang terkait dan mendukung data primer.

Kedua, kritikus sastra harus mampu menguasai bahasa tulis yang baik. Hal ini penting untuk membedakan kritikus sastra dengan pembaca sastra yang lain. Dan terakhir yang ketiga, harus tahu bagaimana mengolah data-data yang tersebut dan menyampaikan dengan bahasa yang baik.

Namun, dari tiga hal teknis di atas, yang paling mendasar adalah soal penalaran dalam menganalisis karya sastra. “Seperti yang pernah disampaikan oleh Katrin, seorang kritikus sastra minimal punya bekal pengetahuan tentang sejarah sastra dan teori-teori sastra,” pungkas Kris.