Mendorong Penciptaan Geguritan yang Menjual

Mendorong Penciptaan Geguritan yang Menjual

Dalam Workshop Sastra Jawa untuk pelajar SMA dan sedejarat di Hotel Melia Purosani, Yogyakarta (28/9/2019), Sinar Indra Krisnawan menekankan kepada para peserta untuk membuat geguritan yang kemedol, alias yang menjual.

Hal ini penting sebab potensi geguritan di ranah industri kreatif saat ini cukup besar. Di bidang musik, misalnya, nama-nama seperti Didi Kempot dan Guyon Waton, hingga yang beraliran hip hop seperti Jogja Hip Hop Foundation dan KM7 menjadi bukti bahwa lagu berbahasa Jawa dapat diterima pasar.

“Kalau karyanya biasa-biasa saja, saya kira tidak ada bedanya seperti kita mengumpulkan sampah visual,” ujar Sinar.

Selain di ranah musik, Sinar menilai geguritan juga punya potensi yang besar di ranah kebudayaan tradisional. Ia mencontohkan ritual merti dusun yang diselenggarakan di hampir setiap desa di Yogyakarta, tempat geguritan bisa dibawakan dengan kemasan berupa doa dan mantra.

Karena itu, Indra berharap, setelah workshop ini selesai, peserta mampu membuat gebrakan sastra Jawa dengan kemasan khas milenial. Jika gebrakan ini berhasil, tentunya akan tercipta peluang besar bagi sastra Jawa untuk mengembangkan industri kreatif.

Ia juga berterima kasih kepada Dinas Kebudayaan Yogyakarta atas agenda pemajuan sastra Jawa, salah satunya lewat diselenggarakannya workshop sastra Jawa ini.