Membentuk Kaligrafi Menjadi Berarti

Membentuk Kaligrafi Menjadi Berarti

Workshop Sastra Jawa hari terakhir diisi oleh Suhadi, seorang seniman kaligrafi, di Hotel Melia Purosani, Yogyakarta (30/9/2019). Sebanyak 60 peserta tingkat SMA dan sederajat dari lima kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta diminta membuat kaligrafi setelah menerima materi.

Giandar Ryandita dari SMK 3 Kasihan membuat kaligrafi membentuk gunungan wayang bertuliskan namanya sendiri. Sementara itu, Sigit Bayu Cahyanto dari SMK 1 Ngawen membuat kaligrafi membentuk wujud Semar, bertuliskan “Bojoshiro arso mardi kamardikan”.

Menurut Sigit yang pernah memenangkan Lomba Kaligrafi Jawa se-Bantul saat kelas 1 SMA ini, Semar adalah tokoh pewayangan yang mengayomi, yang berarti kurang lebih manusia diberikan kesempatan untuk mencipta seluas-luasnya.

Ela Nuraini dari SMAN 1 Sentolo membuat kaligrafi dengan kalimat “Ati Suci Marganing Rahayu” dalam huruf Jawa dan dibentuk hati. Ela merasa senang menerima materi ini sebab langsung diminta praktik. Di sekolah, ia hanya belajar menggambar kaligrafi tanpa dibentuk menjadi bidang tertentu.

Suhadi sendiri membebaskan para peserta membuat karya dari media apa pun. Boleh dengan kertas, tablet, atau langsung di laptop lewat aplikasi Corel Draw. Harapannya, lewat materi ini, siswa dapat mendapat pengetahuan baru bahwa kaligrafi Jawa sangat bisa menjual lewat berbagai media, seperti kaus, sampul buku, logo lembaga, dll.