”Membajak” Stasiun Paling Romantis Se-Indonesia | Indria Pramuhapsari – Diar Candra

”Membajak” Stasiun Paling Romantis Se-Indonesia | Indria Pramuhapsari – Diar Candra

ADA ”pembajakan” di hari terakhir Jogjakarta Literary Festival 2019. Tak tanggung-tanggung, yang jadi target operasi salah satu tetenger Kota Gudeg itu: Stasiun Tugu.

Tapi, tenang, sama sekali tak ada yang dirugikan dalam pembajakan itu.

Malah menuai pujian. Termasuk dari Kepala Daop VI Eko Purwanto. Juga mereka yang Senin lalu (30/9) berada di stasiun tersebut.

Maklum, mikrofon stasiun yang dibajak itu digunakan oleh Pritt Timothy Prodjosoemantri untuk membacakan puisi karya Kirdjomulyo yang berjudul Pulang Kampung. Atraksi yang menjadi bagian dari Sastra Ruang Publik Joglitfest 2019 itu diawali dan diakhiri dengan bel tanda kedatangan kereta api.

”Baca puisi pakai mikrofon stasiun itu sebenarnya ide pribadi saya. Sudah ada sejak Joglitfest belum mulai,” kata Paksi Raras Alit, produser festival sastra pertama Jogjakarta itu, kepada Jawa Pos.

Karena untuk merealisasi ide tersebut perlu proses panjang, termasuk birokrasi yang rumit, dia menyimpan gagasan tersebut. Tapi, ternyata Paksi tidak bisa lama-lama memendam gagasan tersebut.

Saat Joglitfest 2019 memasuki tahap pra-event, dia mulai mendiskusikan idenya dengan panitia festival. Sekitar dua minggu sebelum grand opening Joglitfest 2019 pada 27 September, dia mengajak Yustina Wahyu Nugraheni dan sekitar empat panitia lain ke Stasiun Tugu. Itu menjadi tahap awal realisasi ide.

Mengapa Stasiun Tugu? ”Stasiun Tugu ini stasiun kereta api paling romantis sak-Indonesia Raya,” kata alumnus Sastra Jawa Universitas Gadjah Mada tersebut.

Karena tidak ada satu pun di antara mereka yang punya kenalan ”orang dalam”, mereka nekat datang ke stasiun. ”Kami dapat nomor kontak customer care. Kami juga disarankan mengirim surat sampai ke kantor Daop VI yang ada di dekat Stasiun Lempuyangan,” ungkap vokalis band Mantradisi tersebut.

Pada hari pertama Joglitfest 2019, kabar baik datang. Pihak Daop VI menyatakan dukungan mereka terhadap ide ”membajak” stasiun.

Sempat ragu untuk merealisasi idenya, Paksi lantas curhat kepada sejumlah sastrawan di area Benteng Vredeburg saat Joglitfest 2019 masuk hari ketiga. Setelah itu, bapak tiga anak tersebut semakin mantap untuk mewujudkan ”pembajakan”. Malam itu juga dia mengontak Pritt yang akan didapuk sebagai pembaca puisi.

”Wah, idene edan iki. Mangkat!” kata Pritt yang ditelepon sekitar pukul 12 malam pada 29 September lalu.

Jawaban itu membuat Paksi semakin bersemangat. Mereka lantas janjian ke Stasiun Tugu sore harinya, sekitar pukul 15.00 WIB. Dengan catatan, ide itu belum tentu bisa terealisasi. Sebab, Paksi belum berkoordinasi dengan pihak stasiun pasca mendapatkan izin.

Drama sempat mewarnai perjuangan Paksi dan timnya untuk mewujudkan ”pembajakan” pada hari itu. ”Negosiasinya sempat alot. Memang saya punya banyak permintaan. He he he,” kata pria yang berulang tahun tiap 16 Juni itu.

Saat negosiasi, Kepala Daop VI Eko Purwanto datang ke Stasiun Tugu. Begitu bertemu Paksi dan ngobrol, Eko malah langsung mengiyakan semua permintaan Paksi.

”Lega sekali. Apalagi, momentumnya pas. Pas Pak Pritt baca puisi itu, pas Taksaka dari Jakarta masuk stasiun. Wah, tambah romantis kae,” ungkap Paksi.

Yuni Purnama, putri sulung Kirdjomulyo, menganggap ide Paksi itu brilian. ”Baca puisi di panggung itu biasa. Tapi, ini pakai mikrofon dan menggema sestasiun,” kata Yuni.

Kekaguman dan kebanggaan itu juga dia tuliskan di dinding Facebook Paksi. ”Merinding,” tulisnya, mengomentari unggahan pembacaan puisi sang ayah di stasiun itu.