Manuskrip Kuna dan Perjalanan Mencapai Kedamaian

Manuskrip Kuna dan Perjalanan Mencapai Kedamaian

Manuskrip Jawa menjadi jalan bagi Irfan Afifi untuk meredakan kegelisahan intelektual dan eksistensialnya. Ia melakukan penelitian naskah yang panjang, dan hasilnya ia himpun dalam buku bertajuk Saya, Islam, dan Jawa.

Buku tersebut, yang merupakan buku pertamanya, disinggung dalam acara “Diskusi Manuskrip Nusantara” di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, Jumat (27/9/2019) pukul 13.00 WIB, bersama Dyah Permatasari, sebagai salah satu mata acara Joglitfest 2019.

Irfan membuka diskusi ini dengan menceritakan pengalaman pribadinya kala mulai bersentuhan dengan manuskrip kuna, khususnya manuskrip Jawa, yang pada akhirnya membawa dirinya menuju penghayatan pandangan hidup nenek moyang.

Pada mulanya, Irfan adalah seorang mahasiswa filsafat UGM yang gelisah. Gempuran pemikiran-pemikiran besar yang diajarkan di kampus bertolak belakang dengan apa yang ia pahami sebelumnya di kampung dan pesantren. Bagaimanapun, Irfan hanya anak desa yang tidak terbiasa berpikir aneh.

“Suatu kali saya telat masuk kelas. Saya ucap salam kepada dosen tetapi dosen itu malah bilang, ‘Apa ucap salam, kayak di pesantren aja‘. Hal seperti iti dulu bikin saya langsung shock,” tutur Irfan.

Perkuliahan terus berlanjut. Irfan menjadi pengkaji filsafat yang tekun. Saban hari ia menyambangi perpustakaan kampus untuk membaca dan pulang menggondol buku-buku tebal. Namun, upaya itu tak memuaskannya.

Irfan justru makin gelisah dan pada puncaknya menjadi sedikit “gila”. Ia masih ingat, pada sebuah ramadhan di masa mudanya, ia merokok dan makan di depan sebuah masjid, di antara orang-orang yang berpuasa.

“Waktu melakukan itu, saya seperti enggak punya ingatan,” tuturnya.

Kegelisahan eksistensial Irfan tak kunjung usai bahkan setelah ia lulus kuliah. Ia tidak mencari pekerjaan sebagaimana sarjana pada umumnya. Ia hanya memikirkan cara menyelesaikan masalahnya.

Titik perubahan Irfan justru terjadi di sebuah panti pijat. Pemijatnya, seorang ibu, berkata, “Le, kamu harus sudah bisa madek.”

Kalimat sederhana itu menggetarkan batin Irfan. Madek berarti punya sikap, pendirian, dan identitas. Namun, Irfan merasa tak tahu apa pun soal identitas dirinya. Ia hanya tahu bahwa dirinya orang Jawa, lahir di Jawa, dan tumbuh dalam kebudayaan Jawa.

Sejak itulah ia mencari identitasnya dalam buku-buku tentang Jawa. Namun, itu saja tidak membuatnya puas. Kesalahan-kesalahan orientalis dalam menafsirkan falsafah Jawa membuatnya kesal. Ia bertekad untuk membaca manuskrip-manuskrip Jawa asli demi menemukan kebenaran yang sesungguhnya.

Dengan cara itulah Irfan menemukan kedamaian. Baginya, semakin banyak membaca manuskrip Jawa, semakin banyak ia mengenali dirinya.

Seseorang yang mengenali dirinya akan tenang dan tidak gusar dalam bertindak. Ia tidak akan goyah oleh pergaulan internasional. Jika semua orang berlaku demikian, sebuah bangsa akan kokoh dan maju.