Mahfud Ikhwan Ingin Mendekatkan Gosip ke Sastra

Mahfud Ikhwan Ingin Mendekatkan Gosip ke Sastra

“Seorang penulis bertugas untuk memengaruhi pembacanya, untuk itu, buatlah cerita yang menarik,” ucap Mahfud Ikhwan sebelum membuka sesi praktik menulis dalam agenda Workshop Penulisan Novel di Gerak Budaya Yogyakarta di Condongcatur, Sleman. Ia menginstruksikan peserta untuk menulis gosip paling menarik mengenai orang yang mereka kenal. Puluhan peserta yang terdiri dari pemuda dan pemudi segera menulis di buku masing-masing. Itu terjadi pada Rabu siang, 21 Agustus 2019, 30 menit setelah workshop dibuka sejak pukul satu siang.

Workshop ini merupakan salah satu kegiatan pra-acara Joglitfest 2019. Joglitfest menggandeng Klub Baca Yogyakarta, Kibul.in, dan Gerak Budaya Yogyakarta untuk bekerja sama. Workshop kali ini bertempat di toko buku Gerak Budaya. Peserta duduk berdempetan di ruang yang kecil.

Sepanjang 20 menit, peserta tampak sibuk menulis cerita. Setelah itu, mereka membaca tulisan masing-masing. Setiap kali seseorang selesai membaca, Mahfud Ikhwan memberi komentar dan berbagi pengetahuannya soal menulis. “Kenapa kami harus menulis gosip?” tanya seorang perempuan usai membacakan ceritanya.

“Gosip adalah salah satu hal yang paling dekat dengan masyarakat. Saya ingin mendekatkan apa yang ada di masyarakat ke sastra.” Ucap Mahfud.

Aktivitas pergunjingan, tak dapat disangkal, merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Di tempat publik seperti masjid atau balai desa, orang-orang sering menghidupkan suasana dengan menuturkan kisah tentang seseorang. Ada penutur yang mengisahkan orang lain sebagai tokoh utama. Bagi Mahfud, gosip telah memenuhi unsur cerita.

Gosip dibangun di atas fakta yang rapuh. Tidak ketat. Oleh sebab itu, setiap orang dapat menambah atau mengubah detail cerita. Dengan cara ini, gosip selalu bertahan lama, bahkan menjadi kisah turunan yang diwariskan lintas generasi. “Dalam konsep cerita turun-temurun, pembentuk pertamanya adalah gosip,” kata Mahfud.

Itu menunjukkan bahwa gosip tergolong ke dalam jenis cerita yang menarik. Selalu ada rumor dalam setiap kelompok. Bagi penulis realis seperti Mahfud, gosip dapat menjadi salah satu sumber gagasannya menulis fiksi.

“Kalaupun definisi dan batasan sastra tidak mengizinkan (penggunaan gosip), itu tetap bisa jadi sumber utama menulis,” kata penulis Dawuk ini.

Penulisan gosip di workshop ini bertujuan untuk mengasah ketajaman peserta menulis kisah keseharian di lingkungannya. Langkah ini Mahfud anggap baik sebagai permulaan menghasilkan cerita yang menarik dan berumur panjang. Semakin pandai seseorang menulis kisah di sekitarnya, semakin besar peluangnya menghasilkan cerita bagus, setidaknya berdasarkan pengalaman penulis kelahiran 1980 ini. “Cerita yang tidak menarik tidak akan diceritakan ulang,” kata Mahfud.

Dalam workshop kali ini, Mahfud juga menyertakan tulisan pengantar tentang menulis sepanjang empat halaman yang dibagikan ke seluruh peserta. Dalam tulisan tersebut Mahfud menegaskan, kemampuan menulis dengan baik tidak dapat diperoleh dari aktivitas mengikuti pelatihan menulis. Apalagi dari jawaban pendek seorang penulis tentang tips-tips menulis mudah.

“Masalah dalam menulis tidak bisa dicari solusinya pada satu-dua jawaban pendek dari seorang pembicara dalam kelas menulis,” tulis Mahfud. “Masalah menulis mesti dialami dan setelah itu dilalui. Satu demi satu. Sendiri.” (Fa’i)