Lika-liku dan Laku Orang-orang Komunitas

Lika-liku dan Laku Orang-orang Komunitas

Pagi itu cerah. Di luar, jalanan Yogya pada hari kerja sibuk seperti biasa, dengan para pengendara yang bergegas ke tempat tujuan masing-masing.

Di Hotel Cavinton Yogyakarta, para peserta Workshop Tata Kelola dan Manajemen Komunitas Joglitfest 2019 memasuki Ruang Kalasan. Kegiatan itu dilaksankan hari Jumat (27/9/2019), sejak pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.

Workshop dibagi ke dalam dua sesi, yaitu diskusi Tata Kelola Komunitas dan diskusi Manajemen Komunitas. Setelah pembawa acara membuka acara, lantas dilanjutkan dengan bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Suharmono Arimba, selaku Ketua Umum Joglitfest 2019, memberikan sambutan setelahnya.

Diskusi dimulai setelah Bernando J. Sujibto sebagai moderator mempersilakan para pembicara, yang notabene adalah pelaku aktif beberapa komunitas di Yogyakarta, untuk bercerita tentang lika-liku serta laku mereka dalam merawat napas komunitas masing-masing.

Pembicara pada sesi pertama adalah Mutia Sukma, Ari Prastyo Nugroho, Hendrik Efriyadi, Baiq Intan Cahaya, Andreas Nova, Salman Rusydie Anwar, dan Adhe Ma’ruf.

“Basis kami memang toko buku. Jika ditarik ke belakang, di mana awal mula JBS berdiri sekitar tahun 2008-2009, dimulai dari cerita ketika saya dan Indrian Koto masih berpacaran. Kami bisa dikatakan sama-sama memiliki sifat kurang cocok andai bekerja sama dengan banyak orang. Lalu, kami mulai memikirkan hal-hal yang sesuai dengan passion menulis kami. Awalnya, di tahun-tahun tersebut, kami mulai menyelenggarkan acara diskusi, tidak ribet-ribet, semacam launching buku, yang kemudian setelah waktu berjalan, berkembanglah menjadi seperti sekarang ini. Berdirinya JBS dimulai enam tahun lalu. Ketika kami bersepakat bahwa sudah sudah waktunya kami bisa mendirikan toko buku kecil-kecilan,” demikian Mutia Sukma (CEO Jualbukusastra.com) menjelaskan selaku pembicara pertama.

Ari Prastyo Nugroho dan Hendrik Efriyadi, yang mewakili kelompok belajar sastra Jejak Imaji, masing-masing saling melengkapi dalam menceritakan sejarah berdiri, perjalanan, dan upaya-upaya dalam menepis “kematian” komunitas yang bermarkas di Prenggan Selatan, Kotagede itu.

“Salah satu faktor lahirnya komunitas kami adalah kegelisahan. Jejak Imaji sendiri merupakan kelompok belajar sastra yang lahir karena terbatasnya ruang-ruang diskusi dan ekspresi di lingkungan kampus. Awalnya, kelompok belajar ini bernama Diskusi Lawang Abang yang digiatkan oleh beberapa orang saja, seperti Iqbal H. Saputra, Aditya Dwi Yoga, dan beberapa lainnya. Secara resmi, Jejak Imaji kemudian dibentuk dan dilahirkan pada 1 April 2014 di Kotagede. Kendati telah melewati berbagai persoalan, Jejak Imaji masih tetap bertahan hingga kini. Dapat dikatakan, sosio-kultur kekeluargaan dan kedekatan yang dibangunlah yang menjadi kunci hal tersebut,” jelas Ari dan Hendrik.

Para peserta memberikan tepuk tangan untuk kesekian kalinya, sebelum kemudian giliran Baik Intan Cahaya dan Andreas Nova (Klub Buku Yogyakarta) yang dipersilakan untuk berbicara. “KBY lahir dari ‘bersatunya’ akun-akun Twitter yang resah saat itu. KBY kemudian memutuskan untuk membuat sebuah WAG sebagai sarana komunikasi dan diskusi para pembaca buku yang tersebar di Yogyakarta saat itu. Kami ingin menularkan virus-virus membaca. Secara umum, program kami di KBY dapat dibagi ke dalam program online dan program offline, yang masing-masing punya subkegiatan lagi. Lokasi diskusi kami berpindah-pindah, terkadang di titik 0 KM, Car Freeday, dan lain-lain,” terang Baiq Intan.

Nova lantas melanjutkan, “Tidak seperti teman-teman dari JBS, Kutub, Jejak Imaji, atau Kampung Buku Jogja yang telah memiliki sekretariat tetap, kami di KBY barangkali dapat dibilang masih ‘berburu dan meramu’ alias ‘nomaden’. Kami berpindah-pindah. Sebenarnya, keberadaan sekre perlu juga untuk keperluan penyimpanan buku-buku atau perlengkapan kegiatan, maka kami para anggota menyiasatinya dengan bekerja sama antara satu dengan lainnya.”

Mendengar pemaparan dari beberapa komunitas tersebut, sebelum mempersilakan narasumber berikutnya bercerita, Beje selaku moderator berbicara sekilas kepada para audiens, bahwa Yogyakarta memang dibangun dari napas-napas volunteer semacam itu.

Salman Rusydie Anwar yang hadir dengan setelan celana jeans, kemeja berwarna krem, dan peci hitam, selanjutnya menceritakan tentang sejarah pendirian Komunitas Kutub, yaitu semasa K.H. Zainal Arifin Thoha yang merupakan pengasuh mereka masih hidup.

“Keberadaan Komunitas Kutub tidak bisa dilepaskan dari Pondok Pesantren Hasyim Asyari asuhan Gus Zainal. Saya bisa dibilang menjadi saksi bagaimana pondok tersebut dibangun dan Komunitas Kutub kemudian dirintis. Saya tidak khawatir Kutub akan hilang. Spirit yang dibangun dalam Komunitas Kutub ini adalah spirit kemandirian, dan itu sangat ditekankan. Jika ada anak yang baru masuk, mereka masih boleh mendapatkan kiriman orang tua, tetapi hanya tiga bulan sejak masuk. Itu logika yang dibangun oleh Gus Zainal. Jadi, salah satu cara santri untuk bertahan, salah satunya, ya dengan menulis. Dan tradisi itu masih terawat hingga sekarang,” terangnya.

Narasumber terakhir adalah Adhe Ma’ruf, sang founder Kampung Buku Jogja (KBJ). “Kami baru saja selesai menyelenggarakan event tahunan KBJ di Gedung PKKH UGM. Ini tahun yang kelima. Setiap tahun memang coba kami pertahankan. Awalnya ini berangkat dari teman-teman perbukuan, penulis, literasi, dan sejenisnya, tetapi belakangan kita coba meluaskan, sehingga makin banyak komunitas lain yang bisa terlibat. Kami ingin buku menjadi medium, senjata, alat, agar semua elemen kreatif di Yogya bisa berkumpul. Sejauh ini, dalam penyelenggaraan KBJ, memang pernah terniat untuk membangun kerja sama dengan pemerintah, tetapi dicuekin,” ungkap Adhe dibumbui kelakar, yang kemudian diikuti ledakan tawa para audiens.

Diskusi Tata Kelola Komunitas yang merupakan sesi workshop pun ditutup setelah kegiatan tanya-jawab berakhir. Jam menunjukkan pukul 11.30 WIB. Seluruh pembicara, panitia, dan peserta yang hadir, kemudian meninggalkan ruangan. Di luar, panggilan untuk salat Jumat pun kedengaran telah memanggil. (Ilham)