Kyai Faizi: Seperti Kata Rendra, Penyair Harus Keluar dari Salon

Kyai Faizi: Seperti Kata Rendra, Penyair Harus Keluar dari Salon

Siang terakhir Joglitfest 2019 (Senin, 30/9/3019) begitu ramai sebab M. Faizi jadi pembicara. Ia sosok nyentrik dari Madura yang menguasai berbagai keahlian. Ia penyair, esais, sempat menjadi pemain band, dan kyai. Ia mengulas tema “Sastra Gunung dan Sastra Pesisir” di area pasar sastra Joglitfest 2019.

Menurut Faizi, dikotomi penyair gunung dan pesisir kian tidak relevan. Generasi penyair saat ini telah terlepas dari pengamatan panorama alam di sekelilingnya. Mereka cenderung lebih suka mengangkat tema-tema non-panorama.

“Penyair sekarang bebas dari panorama itu (alam). Bebas dari lingkaran spasial. Maka, semakin sulit membedakan penyair gunung dan penyair pesisir,” ucap Faizi.

Bahasan panorama dalam puisi itu bukan hanya tentang keindahan. Tidak sesederhana itu. Faizi menjelaskan bahwa pengamatan penyair atas alam di sekelilingnya menyangkut analisis sosial. Mereka penyair yang peka terhadap setiap perubahan sosial di sekelilingnya.

Ia mencontohkan puisi-puisi dari Madura. Pada dekade 90-an, puisi Madura cenderung meniru Zawawi Imron. Ia menyebutnya “zawawian”. Banyak kata “garam” dan “laut”.

Penggunaan dua kata itu tidak lagi cukup untuk menggambarkan kondisi alam Madura. Selain keduanya, terdapat gas alam yang seharusnya ikut dipikirkan dan masuk puisi.

“Madura enggak selalu garam. Kalau penyair Madura ngomongin itu terus lalu melupakan gas alam misalnya, bisa ducuri korporasi nanti. Atau, jnagan-jangan puisi Madura selalu ngomongin garam dan laut agar oligarki bisa mencuri sumber daya alam lainnya. Tetapi, tetap harus dipikirkan, bagaimana caranya membuat kata-kata ilmiah seperti gas atau uranium menjadi puitik,” kata Faizi.

Bagi Faizi, penyair harus jeli melihat lingkungan, jangan sampai terjebak atau hanya mengekor penyair-prnyair terdahulu. Penyair harus menyesuaikan diri. Dengan demikian, untuk menjadi penyair yang baik, seseorang bukan hanya dituntut mampu merangkai susunan kata puitik, melainkan juga menguasai disiplin ilmu lain. Tujuannya agar ia mampu membuat puisi yang komprehensif dan menyertakan beragam analisis sosial.

“Seperti kata Rendra, penyair harus keluar dari salon, turun ke jalan,” pungkas Faizi.