Kolektif Melawan Pembajakan Buku

Kolektif Melawan Pembajakan Buku

“Omset penerbit kami (Ombak) turun 60%, salah satu sebabnya adalah pembajakan buku,” ucap Muhammad Nursam, pemilik Penerbit Ombak, yang hadir sebagai peserta di Temu Penerbit Indonesia.

Pembajakan buku makin marak. Isu tersebut mesti diangkat karena menyangkut hajat hidup pelaku perbukuan sehingga perlu ada tindakan serius.

Panitia Festival Sastra Yogyakarta (Joglitfest) menyediakan forum khusus untuk isu tersebut. Acara dengan tajuk “Temu Penerbit Indonesia: Seminar Penerbit dan Peluncuran Pasar Sastra” itu digelar di Cavinton Hotel Yogyakarta, pada Kamis, 29 Agustus 2019.

Arif Abdulrakhim (sejutabuku.com) menjadi moderator dan memperkenalkan siapa saja pembicaranya. Ada dua pembicara, yaitu Indra Ismawan, pemilik Media Pressindo Group yang adaptif terhadap perubahan zaman. Sedangkan pembicara kedua adalah Nandang Sutrisno, mewakili Pusat HAKI Universitas Islam Indonesia (UII) yang membahas regulasi buku dan hak cipta di Indonesia.

Nandang berkisah, ketika menempuh pendidikan S2 di Kanada, ia pernah memindai satu buku penuh dan mendapatkan teguran dari pihak berwajib. Namun, tindakannya hanya sebatas teguran. Yang kena tindakan hukum adalah pihak perusahaan yang menyediakan jasa fotokopi. Sebab, tindakan Nandang adalah sebatas akademik, bukan meraup keuntungan, sedangkan perusahaan fotokopi berorientasi bisnis.

Akan tetapi, lain hal yang terjadi di Indonesia. Pembajakan buku masih marak di kota-kota besar. Seperti di Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta.

Padahal, pada Undang-Undang No. 28 Th. 2014 Pasal 58 Ayat (1) bahwa Perlindungan Hak Cipta atas Ciptaan telah terurai beberapa item, yang pertama adalah buku, pamflet, dan semua hasil karya tulis lainnya.

“Buku kami banyak dibajak. Ini jelas merugikan. Harus ada sesuatu untuk melawan pembajakan buku. Kita harus melakukan itu secara kolektif dan bukan cuma penerbit, tapi juga penulis, penerjemah, dan pemerintah, intinya semua stakeholder, ” ucap Indra secara tegas.

Indra melanjutkan responsnya terhadap fenomena pembajakan buku tersebut: “Pemerintah belum kelihatan serius mengatasi pembajakan buku, tetapi aku yakin bila kita melakukan gerakan, pasti pemerintah memberikan dukungan. Sebenarnya, UU Hak Cipta dan penyempurnaan pada 2014 sudah sangat bagus. Dari sisi hukum sudah bagus, tinggal penegakannya.”

Tindakan konkret sudah diambil. Minggu, 25 Agustus 2019, tepat pada hari kedua MocoSik Festival, Konsorsium Penerbit Jogja mengadakan Press Conference atas pelaporan mereka perihal pembajakan buku kepada Polda DIY. Dan, Polda mengeluarkan surat No. LP/0634/VIII/2019/DIY/SPKT.

Pelaku buku tidak lagi membiarkan pembajakan buku ini terus dilakukan, terus didistribusikan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab.

Temu Penerbit Indonesia ditutup dengan launching Pasar Sastra oleh Koordinator Program Pasar Sastra, Arif Abdulrakhim. Ia menjelaskan mekanisme dan peraturan Pasar Sastra Festival Sastra Yogyakarta (Joglitfest) pada 27—30 September 2019 yang akan digelar di Benteng Vredeburg. (Safar Banggai)