Kisah Cinta Tragis Mangir-Pembayun Sebagai Identitas Baru Jogja

Kisah Cinta Tragis Mangir-Pembayun Sebagai Identitas Baru Jogja

Semua orang mengetahui Jogja, tetapi tidak dengan kisah cintanya. Ada satu legenda romansa tragis yang dituturkan turun-temurun oleh masyarakat bumi Mataram, yaitu kisah Ki Ageng Mangir Wanabaya dan Raden Ayu Pembayun. Dyah Puspitasari menuturkan kisah ini dalam dikusi manuskrip kuna di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga pada Jumat (27/9/2019).

Pembayun adalah putri Panembahan Senopati yang ambisius. Pada masa-masa awal pendirian Kerajaan Mataram, yaitu abad 17, Senopati tengah gencar melakukan ekspansi. Mulanya, ia hendak menaklukkan seluruh bagian Yogyakarta. Namun, keinginan itu terganjal sosok Mangir, penguasa sebuah daerah di Yogyakarta.

Senopati gentar menghadapi Mangir sebab lawannya memiliki pusaka Kyai Baru Klinthing. Diutuslah Pembayun untuk menjadi telik sandi dan membujuk Mangir agar sudi berkunjung ke kediaman Senopati. Mangir yang kadung jatuh cinta pada perempuan itu menuruti undangan. Setiba di kediaman Senopati, petaka justru menghampiri Mangir. Ia dibunuh.

“Di Kotagede, makam Ki Ageng Mangir dibagi dua. Setengahnya dianggap musuh. Setengah lainnya dianggap menantu,” ucap Dyah.

Dyah hafal betul kisah tersebut sebab ia adalah konseptor Dramatari Sekar Pembayun. Ia ingin Jogja memiliki kisah cinta yang dikenal banyak orang. Dari sekian banyak kisah, ia memilih kisah yang memiliki magnet universal abadi, yaitu kisah cinta.

Bagi Dyah, kisah cinta dapat menjadi pendekatan baru untuk mengenalkan Jogja ke dunia melalui pendekatan epik dan humanis. Selama ini, Jogja hanya dikenal dari simbol-simbol politik dan budaya, seperti Kraton dan batik. Pendekatan yang kaku. Diperlukan pendekatan humanistik agar muncul empati.

“Yang dibutuhkan saat ini adalah perspektif baru untuk merobohkan pandangan sepihak dari perspektif politik saja,” ucap Dyah.

Dyah berharap, kisah cinta Mangir-Pembayun dapat menjadi identitas baru Jogja.