Kang Acep Yonny: Anak-Anak Harus Bangga pada Dirinya

Kang Acep Yonny: Anak-Anak Harus Bangga pada Dirinya

Di balai warga kampung Jaranan, Desa Panggungharjo, sekira 50 anak menyimak penuturan dongeng Kang Acep Yonny. Mata mereka terbelalak. Kepala mereka mendongak-dongak agar dapat menyaksikan gerak pendongeng. Beberapa anak berlarian. Mereka gembira karena berkumpul bersama teman sebayanya.

Kang Acep menceritakan kisah putri duyung dan pangeran. Ia menirukan suara ombak, burung, dan angin untuk mendukung cerita. Ia terus mendongeng sepanjang 40 menit hingga menutup sesi pertama acara “Pustaka & Mendongeng Keliling” yang diselenggarakan pada Rabu, 4 September 2019.

“Anak-anak yang baik hati, tampan dan cantik, kita harus bersyukur pada semua anugerah Tuhan. Ada yang pintar menggambar, bernyanyi, menari, dan lain-lain. Kita syukuri semua bakat yang luar biasa itu. Kita harus bangga kepada diri sendiri. Kita tidak harus sama dengan orang lain. Kita boleh berbeda-beda dengan orang lain asalkan dapat bersatu,” kata Kang Acep menutup dongeng dengan pesan baik untuk anak-anak.

Peserta yang terdiri dari anak-anak dan orang dewasa bertepuk tangan usai Kang Acep undur diri. Pembaca acara menghantarkan peserta menuju sesi dua, yaitu bincang-bincang bersama dua pengelola Pustakwruh. Keduanya adalah siswi sekolah menengah di Bantul bernama Arina Hikmaya dan Arih Mustikawati.

Pustakwruh merupakan nama perpustakaan Desa Panggungharjo, salah satu program gagasan Forum Anak desa ini. Misinya menciptakan perpustakaan yang mampu memberi rasa nyaman bagi anak-anak muda. Pustakwruh juga membuat perpustakaan keliling yang berputar mengitari Panggungharjo pada sore hari.

Pengelolanya menggunakan gerobak untuk mengangkut buku bacaan anak-anak.
“Perpustakaan keliling meningkatkan minat baca anak-anak. Waktu kami ke kampung-kampung, minat baca anak-anak ternyata tinggi banget,” ucap Arina membagikan pengalamannya selama mengelola Pustakwruh.

Sebagian anak masih duduk di barisan terdepan mendengarkan kisah-kisah Arina dan Arih. Sebagian lainnya berhamburan ke segala arah. Arih lalu berbagi pesan kepada anak-anak. “Pesan buat adik-adik, sering baca biar pengetahuannya luas, karena membaca adalah jendela pengetahuan.”

Acara segera ditutup, pra-event Joglitfets ini hanya berlangsung sepanjang dua jam. Ini berbeda dengan workshop penulisan pra-Joglitfest yang biasanya berdurasi 6 jam. Seorang pengelola Pustakwruh lain bernama Pandu masuk ke panggung memberi pesan pungkas bagi anak-anak. Ia memberi tips praktis. “Kalian harus rajin membaca, minimal satu lembar di setiap hari. Membaca apa saja, baik buku pelajaran, dongeng, cerita, dan lain sebagainya.”

Pesan itu sekaligus menutup acara ini. Mobil perpustakaan keliling milik Grahatama Pustaka Yogyakarta masih terdiam di samping balai. Penyelenggara acara menggandeng perpustakaan di Banguntapan ini. Mereka akan ikut mengunjungi desa-desa tempat acara pra-Joglitfest diselenggerakan.

Pembawa acara menutup acara lalu mengajak anak-anak melakukan senam ringan yang menyenangkan, senam alpukat. Mereka berdiri mengikuti gerak perempuan di hadapan mereka sambil melantunkan lagu. “Aku pohon alpukat yang rindang, yang rindang/Ini batangku dan ini rantingku/Bila aku tumbang krek-krek-krek, krek-krek-krek.”

Selain di Panggungharjo, acara Pustaka & Mendongeng Keliling ini akan digelar di beberapa tempat: SDN Gedangan 01, Hargomulyo Gedang Sari, Gunungkidul; Pojok Baca Al- Abidin Bulak RT 21/11 Tuksono, Sentolo, Kulonprogo; dan di Rumah Baca Komunitas, Gamping, Sleman.