Joko Pinurbo: Bapak Khong Guan di Joglitfest 2019

Joko Pinurbo: Bapak Khong Guan di Joglitfest 2019

Di Monumen Serangan Oemoem 1 Maret, pembukaan Festival Sastra Yogykarta (Joglitfest) 2019 membludak. Di bawah panggung, para anak muda duduk bersila. Tamu VVIP diisi oleh para pejabat pemerintah dinas Yogyakarta, duduk di kursi di bawah tenda.

Grup musik, seperti Silampukau dan Jogja Hip Hop Foundation hadir. Selain itu, ada pula penyair berasal dari Makassar, Aan Mansyur, dan Joko Pinurbo, ikon perpuisian Indonesia kontemporer.

Jokpin, mengenakan kemeja hitam, dengan gaya santai membacakan beberapa puisi terbarunya, yang bertalian dengan “Khong Guan”.

Salah duanya berikut ini:

Rumah Khong Guan

 Biskuit berterima kasih
kepada rengginang
yang telah ikut melestarikan
rumahnya yang merah:
kaleng Khong Guan.

(2019)

 Jogja dalam Kaleng Khong Guan

Jogja itu
rasa kangen
dan senewen
yang selalu muncul
dalam kaleng Khong Guan
tanpa kulo nuwun
dan matur nuwun

(2019)

Joko Pinurbo adalah salah satu sastrawan yang sangat gembira dengan kehadiran Festival Sastra Yogyakarta (Joglitfest). Sore sebelumnya, Jokpin antusias membahas tentang festival sastra di Indonesia di Selasar Museum Vredeburg.

“Akhirnya, festival sastra ada di Yogyakarta. Walaupun terlambat. Daripada enggak ada,” ucap Jokpin.

Dalam diskusi itu, ia juga sempat mengulik sedikit maksud dari tema Joglitfest 2019, yaitu “Gregah”. “Gregah” artinya “bangkit”. Itu adalah simbol untuk bangkit dari kemalasan, bangkit dari ketinggalan.

“Saya lihat, di Jogja, banyak sumber daya manusia, tapi pengarang-pengarang itu terlalu banyak terlibat menjadi panitia Joglitfest sehingga kurang tampil di acara,” kritik Jokpin.