Joglitfest Mencari Solusi bagi Permasalahan Sastra Yogyakarta

Joglitfest Mencari Solusi bagi Permasalahan Sastra Yogyakarta

Joglitfest lahir dari keresahan. Hal ini terungkap dalam acara Soft Launching Joglitfest 2019 di Ruang Bima, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta pada Senin, 2 September 2019. Tia Setiadi, kurator Joglitfest 2019 menyatakan bahwa selama ini acara-acara sastra di Jogja masih bersifat parsial.

“Belum ada suatu festival yang merangkum seluruh elemen (sastra) di Yogyakarta. Dan menurut saya, inilah wadahnya.” Hal itu diwujudkan dengan menjalin banyak pelaku sastra untuk terlibat. Tia memberi contoh, dalam kegiatan workshop dan panggung sastra, Joglitfest menggandeng komunitas-komunitas sastra di Jogja. Salah satunya seperti Workshop Penulisan Puisi di Sanggar Komunitas Kutub yang telah diadakan pada 20 Agustus lalu.

Berbagai kota yang turut mengadakan festival sastra, seperti Jakarta, Bandung, Makassar, dan yang akan datang di Surabaya merupakan kabar baik bagi perkembangan sastra di Indonesia. Ini menandakan ada potensi besar dalam event festival sastra. Menurut Tia, perkembangan baik ini bisa menjadi jalan bagi berbagai komunitas sastra maupun pelaku-pelaku di luar komunitas di seluruh Indonesia untuk saling berintegrasi.

“Ada sekitar 50 orang sastrawan yang diundang dalam komunitas ini yang berasal dari berbagai daerah, seperti Madura, Papua, Kalimantan. Semua provinsi ada. Ini sangat menarik dan mungkin Jogja menjadi yang pertama,” lanjut Tia.

Selain sebagai wadah besar berbagai elemen sastra di Yogyakarta, Harmono selaku ketua panitia menambahkan bahwa Joglitfest mencoba menjadi solusi bagi beberapa permasalahan di dunia sastra. Salah satunya ialah penyatuan antara sastra Jawa dan sastra Indonesia.

“Selama ini seperti ada gap antara sastra Jawa dan sastra Indonesia. Nah, di festival ini kita pertemukan. Acaranya berbentuk sastra Jawa dan Indonesia. Pesertanya berasal dari kedua bidang itu.”

Selain itu, persoalan regenarasi penulis di Yogyakarta juga menjadi masalah yang ingin diatasi oleh Joglitfest. Menurut Harmono, dalam 10 tahun terakhir tidak muncul karya-karya sastra serius dari Yogyakarta yang kuat secara nasional hingga dikenal luas oleh publik. Masalah ini coba diatasi lewat berbagai workshop dan diskusi yang diampu tokoh-tokoh sastra yang mumpuni.

Merangkul berbagai elemen sastra menjadi agenda utama dalam pelaksanaan Joglitfest. Meski begitu, Harmono menekankan bukan berarti pihak Joglitfest akan menginterupsi kegiatan sastra yang sudah muncul sebelumnya. Dalam acara Sastra Bulan Purnama yang merupakan agenda rutin Tembi Rumah Budaya misalnya, Joglitfest mengapresiasi dengan mengarahkan peserta acara Joglitfest dari berbagai daerah untuk hadir. Selain itu, dukungan logistik, yakni menyediakan konsumsi bagi peserta dan honor bagi pengisi juga dilakukan.

“Sastra adalah tanggung jawab pemerintah daerah, sama seperti cabang kesenian yang lain. Sehingga semestinya dirangkul dan menjadi milik bersama,” tegas Harmono.

Aris Eko Nugroho selaku Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta mengamini hal tersebut. Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan sastra di daerah. Namun, Aris menaytakan bukan berarti pemerintah akan mengintervensi keputusan-keputusan tim ahli, kurator, dan panitia. Dalam kegiatan ini, pemerintah berperan sebagai fasilitator.

“Sesuatu itu akan berhasil apabila diserahkan pada ahlinya. Kalau diserahkan pada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancuran,” candanya. Aris berharap semua elemen saling berelaborasi dan saling melengkapi dalam penyelenggaraan Joglitfest 2019. Kekuarangan yang ada di tahun perdana ini akan dijadikan catatan untuk perbaikan bagi acara tahun selanjutnya. (Fitriana Hadi).