Joglitfest bisa Belajar dari Makassar Internasional Writers Festival

Joglitfest bisa Belajar dari Makassar Internasional Writers Festival

“Saya senang Jogja punya festival sastra meski terlambat. Tapi lebih baik daripada tidak,” ujar Joko Pinurbo dalam Diskusi Festival Sastra di Indonesia di Benteng Vredeburg pada Jumat (27/9/2019).

Menurut pria yang biasa disapa Jokpin ini, Jogja seharusnya sudah memiliki festival sebab kota ini adalah kota budaya. Ia berharap Joglitfest akan terus berjalan tiap tahun.

Dalam diskusi ini, Jokpin membahas perbedaan antara Joglitfest dan Makassar International Writers Festival (MIWF). Yang paling kentara, Joglitfest diselenggarakan oleh institusi pemerintah, sementara MIWF berdasar lembaga partikelir meski pernah juga mendapat bantuan dari pemerintah.

Sementara itu, dalam hal pembicara, MIWF dipimpin tim kurator.

“Festival di Makassar di-manage satu tim kurator yang tetap dari 2011 sampai sekarang,” ujar Jokpin. Karena tim ini tetap, MIWF setiap tahun memiliki tema-tema yang baru. Pada 2019, Jokpin kebagian bicara soal hubungan mayoritas dan minoritas.

“Penyelenggaranya bekerja sama dengan kampus. Saya datang sebagai wakil dari minoritas. Saya sebenarnya ngeri, tetapi ternyata peserta di UIN itu terbuka dan menghasilkan diskusi berbobot, ” kenang Jokpin.

Dalam acara itu, Jokpin mencatat poin penting bahwa minoritas-mayoritas bukan hanya konteks jumlah, tetapi bagaimana akses sosial bisa didapatkan.

Jokpin merasa Joglitfest bisa belajar dari IMWF. Tema “gregah” tahun ini bagi Jokpin bisa dilihat sebagai sikap dunia sastra untuk bangun dan melihat problem sastra.

Ia mempertanyakan apakah menggali romantisme masa lalu Jogja dan menggali kembali unsur budaya masih relevan. Bagaimana merelevansikan tema dengan konteks zaman sekarang?

Bagi Jokpin, salah satu ukuran kesuksesan suatu festival adalah bagaiman respons panitia terhadap tamu atau pengisi. Ia merasa, Makassar dapat dijadikan contoh festival yang berhasil mulai dari kualitas pertunjukan hiburan hingga diskusi.