Joglitfest adalah Kabar Gembira untuk Sastra Indonesia

Joglitfest adalah Kabar Gembira untuk Sastra Indonesia

Saat pembukaan Festival Sastra Yogyakarta (Joglitfest) 2019, Aan Mansyur membaca puisi berjudul “Saya Patah Hati dengan Makassar”.

 

Makassar adalah jawaban.
Tetapi, apa pertanyaannya?

Ayah pergi ke kantor.

(Ibu pergi ke mana?)

Adik pergi ke bioskop.

Sarimin pergi ke mall.

Makassar pergi ke Jakarta.

Untuk apa Makassar pergi ke Jakarta?

  1. studi banding,
  2. menghadiri acara keluarga,
  3. berlibur dan belanja,
  4. semua benar.

Tiap kali Makassar pergi ke Jakarta, Makassar membawa pulang oleh-oleh: beberapa keping Jakarta. Sekarang Makassar tidak perlu pergi ke Jakarta untuk berada di Jakarta.

Makassar mencintai Jakarta sebesar Jakarta membenci Jakarta.

Keresahan Aan terhadap Makassar sudah bertahun-tahun. Makassar telah menjadi Jakarta. Saat Jakarta mempunyai masalah, Makassar juga menyambutnya. Ketika Jakarta membuat keributan, Makassar membantunya. Jakarta dan Makassar tak lagi punya perbedaan.

Di atas panggung, sebelum pembacaan puisi tersebut, Aan mengatakan, “saya mengajak para hadirin mengapresiasi dan beri hormat kepada mahasiswa dan siapa pun yang berjuang—terutama mereka yang kehilangan nyawa—agar kita bisa punya ruang untuk merayakan kemewahan semacam Joglitfest ini”.

Joglitfest diselenggarakan pada hari-hari aksi di mana mahasiswa melakukan demonstrasi di beberapa daerah di Indonesia. Dan, telah memakan korban.

Aan datang ke Yogyakarta untuk menghadiri Joglitfest.

Menurutnya, sangat menggembirakan karena Yogyakarta punya festival sastra. Ia percaya, bukan hanya dia saja yang menunggu Yogya punya festival sastra. Bahkan, seharusnya, 10 atau 20 tahun lalu Yogya sudah punya pergelaran seperti ini (Joglitfest). Yogya punya semua hal yang dibutuhkan untuk bikin festival. Festival ini juga menjadi kabar gembira untuk sastra Indonesia pada umumnya.

Aan menambahkan, “Saya tidak punya ekspektasi besar terhadap festival ini, sebab ini masih pertama. Saya hanya berpikir bahwa yang pertama ini memberi ruang bagi banyak hal kepada siapa pun yang terlibat di sini untuk belajar untuk mengadakan festival kedua, ketiga, dan seterusnya.”

Aan menengok bagaimana mereka memulai membuat Makassar International Writers Festival (MIWF) pada 2011. Mula-mula, pola belum terbentuk. Saat festival keempat dan kelima, pola sudah terbentuk. Aan yakin, Joglitfest akan seperti itu.