Jogja Hiphop Foundation Meriahkan Grand Opening Joglitfest 2019

Jogja Hiphop Foundation Meriahkan Grand Opening Joglitfest 2019

Pukul 22.22 WIB, Jogja Hiphop Foundation (JHF) naik panggung. Mereka didaulat sebagai penampil penutup Grand Opening Joglitfest 2019 pada Jumat (27/9/2019). Malam itu, mereka tampil lengkap dengan seluruh awak. “SOS” menjadi lagu pertama yang mereka bawakan.

Ratusan penonton ikut melantunkan lagu yang dinyanyikan empat personelnya, yaitu Kill the DJ, Balance, M2MX, dan Ki Ageng Gantas. Sebagaimana kebanyakan lagu hiphop, SOS penuh dentuman sehingga sebagian penonton melakukan aksi headbang. Mulut bernyanyi, kepala menganguk-angguk.

Sepanjang 30 menit, penonton dimanjakan ponampilan JHF yang penuh energi. Javanese collective hiphop crew yang didirikan pada 2003 ini tampil membawakan sepuluh lagu. Tiga diantaranya adalah “SOS”, “Jaman Edan”, dan “Topi Miring”.

Penampilan JHF berakhir pada pukul 22.59. Lagu penutupnya adalah “Jogja Istimewa” yang sudah begitu kondang. Penonton makin bersemangat. Mereka menaikkan suara setiap kali memasuki bagian reff lagu.

JHF tak hanya menyanyi, mereka juga mengomentari pagelaran Festival Sastra Jogja ini. Menurut mereka, festival sastra sangat penting untuk situasi saat ini. Penetrasi internet dan media sosial dalam kehidupan membutuhkan penyeimbang, yaitu literasi. Tanpanya, orang akan mudah terombang-ambing di tengah  banjir informasi.

“Sekarang ada digital literacy. Banyak orang kurang membaca tetapi banyak berkomentar. Baca status, menyimpulkan sendiri, terus ngerasa paling pinter dewe,” ucap pentolan JHF.

JHF berharap Joglitfest dapat digelar setiap tahun agar semakin banyak orang yang mengenal sastra. Mereka memaklumi jika penyelenggaraan Joglitfest pertama masih memiliki banyak kekurangan. Sebuah festival, bagi mereka, dapat dinilai baik buruknya setelah lima tahun berjalan.

“Semoga festival ini berjalan setiap tahun. Biar dinas enggak cuma buang anggaran. Memang, enggak mungkin langsung jadi dalam penyelenggaraan pertama. Kalau sudah lima tahun baru bisa dinilai apakah festival ini berhasil atau tidak. Kalau bagus lanjutkan, kalau jelek, ya, ditinggal. Namanya festival itu kudu diselenggarakan setiap tahun. Kalau lima tahun sekali, kuwi jenenge kenduren,” pungkas Kill The DJ.