Jemek Supardi: Hidup Itu Berpantomim

Jemek Supardi: Hidup Itu Berpantomim

Dengan pakaian serba kuning, Jemek Supardi menampilkan pertunjukan pantomim dengan membawakan topeng putih yang seolah diajaknya berbicara. Setelah beberapa saat bergrak di pintu gerbang, Jemek berjalan perlahan bersama topengnya itu dan menyusuri lorong-lorong Pasar Buku. Setelah hampir sampai panggung, Jemek Supardi langsung disambut Gamasutra dengan pembacaan naskah kuno.

Jemek, sapaan akrab seniman pantomim senior ini, terlibat di Joglitfest untuk mementaskan tafsirannya atas karya Joko Pinurbo dalam bentuk pentomim. Puisi yang bertemakan senja tersebut terlihat dari pemilihan kostum kuning keemasan. Jemek membaca karya tersebut dan memvisualkannya dengan gerak pantomim.

“Soal sampai atau tidak, tidak masalah. Yang penting bagi saya adalah berbuat dulu,” ungkapnya.

Walaupun ditangkap dengan spontanitas, ia selalu berusaha menangkap sesuatu dengan bahasa geraknya. Gerak tubuh adalah bahasa tubuh yang tak bisa dibohongi. Gerak-gerik manusia bisa dimaknai dengan hal-hal tertentu. Oleh karena itu, Jemek berharap agar orang tahu bahwa gerak itu bisa berkata dalam imajinasi.

Selama menjalani pantomim, Jemek tidak merasa kesulitan.

“Bagi saya, hidup itu berpantomim,” ucapnya tegas.

Oleh karena itu, sampai usia 67 tahun, Jemek konsisten dengan pilihan hidupnya.

Pilihan berpantomim pria kelahiran 14 maret 1953 tersebut dimulai saat ia masuk dunia teater yang tidak lepas dari olah tubuh.

“Saya merasa lamban menghafal kata-kata. Selain itu, ternyata banyak orang tertarik dengan bahasa gerak saya. Akhirnya hal itu saya lakukan,” kata pria yang menyukai buku Bhagawadgita ini.