Jalan Kaki, Jalan Sunyi Menulis Dwi Cipta

Jalan Kaki, Jalan Sunyi Menulis Dwi Cipta

Jalan kaki pernah menjadi tren saat Yunani Kuno tampil di garda depan pemikiran filsafat Eropa. Tokoh-tokoh inti filsafat era ini merupakan pejalan kaki yang tangguh, mulai dari Socrates hingga Aristoteles.

Jalan kaki juga menjadi ritual yang dilakukan oleh Dwi Cipta, penulis novel Darah Muda. Baginya, jalan kaki merupakan salah satu faktor pendukung untuk memecahkan kebuntuan saat menyelesaikan novelnya tersebut.

Hal itu disampaikannya dalam workshop penulisan esai, Selasa Pagi, 27 Agustus 2019 di Gedung Kuliah 1, Fakultas Bahasa dan Seni, UNY.

Jalan kaki menjadi moda transportasi purba yang banyak membantu Dwi Cipta saat proses menulis. Ia sanggup berjalan kaki dan berlari-lari hingga jarak berkilometer.

“Karena ketika SMA tidak punya motor, saya terbiasa berjalan kaki dengan jarak yang jauh,” ucapnya mantap.

Bagi Dwi Cipta, jalan kaki merupakan proses relaksasi untuk memudahkan dirinya mencerna isi buku bacaan dan menuliskannya kembali. Berkat jalan kaki, sejak 2007, ia bisa menulis sekali duduk selama 4—6 jam sampai tulisan selesai.

Dwi Cipta bukan seorang Socrates yang menjadi filsuf saat jalan kaki menjadi pilihan orang banyak. Ia dengan sadar memilih berjalan kaki sebagai pilihan politis di tengah kebijakan spasial kota yang berpihak pada kendaraan bermotor.

Namun, sejak Yogyakarta mulai ramai dengan kendaraan bermotor, kegemaran jalan kaki Dwi Cipta terganggu. Jalan kaki terlalu berisiko bagi dirinya. Ia pernah diserempet mobil sebab jalan raya sudah terlalu sempit dan trotoar tidak dibangun dengan baik. Trotoar pun habis tanpa sisa bagi pejalan kaki sepertinya. Sebab risiko itulah, ia pun jarang berjalan kaki lagi.

“Volume motor dan mobil pribadi di jalan raya naik drastis disertai perilaku ngawurnya dan ketika sore menjamur warung tenda hingga tengah malam,” kata Dwi Cipta.

Selain bercerita pengalaman sebagai penulis, Dwi Cipta memberikan pantikan kepada peserta workshop penulisan esai kali ini. Baginya, saat seseorang memutuskan untuk menjadi penulis, saat itu juga ia harus yakin dengan sumber daya yang dimilikinya.

Sumber daya pertama yang harus dilakukan calon penulis adalah menggerakkan jarinya di atas mesin tik atau di hadapan komputer.

“Seorang penulis harus keras kepala di depan komputer,” tegas pria yang sempat kuliah di Undip dan UGM ini.

Pada saat seperti inilah, menulis sama sunyinya dengan jalan kaki. Setelah perkara ketahanan tersebut selesai, seorang penulis harus menakar kualitas dirinya sendiri.

Tulisan yang bagus, bagi Dwi Cipta, harus lahir dari bacaan yang bagus pula. Oleh karena itu, ketika pindah dari Semarang ke Yogykarta, ada empat tempat yang langsung diidentifikasinya: perpustakaan, toko buku, lapak buku bekas, dan lapak koran. Membaca adalah kunci inti kualitas tulisan.

Menulis, bagi Dwi Cipta, bukan proses instan. “Proses menulis adalah proses mengolah draf tulisan,” ucapnya.

Oleh karena itu, proses menulis bisa memakan waktu yang cukup lama. Sebab, bagi Dwi Cipta, dalam proses tersebut seorang penulis melakukan identifikasi dan menangkap pengetahuan baru. (Suhairi Ahmad)