Irfan Afifi: Tradisi Orientalis Banyak Menyesatkan

Irfan Afifi: Tradisi Orientalis Banyak Menyesatkan

Ifan Afifi adalah seorang pemikir dan penulis tentang Jawa dengan energi ekstra. Ketekunannya mengagumkan. Ia sudah menekuni tema kajian ini bertahun-tahun.

Buku pertamanya, Saya, Islam, dan Jawa, menuai banyak pujian dan membuatnya menjadi salah seorang pemikir Jawa yang disegani.

Pada diskusi manuskrip kuna di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, Jumat 27 September 2019, Irfan memaparkan pentingnya membaca manuskrip Jawa kuna.

Pertama, sebagai orang Jawa, membaca manuskrip dapat mengenalkan pembaca pada identitas dirinya. Pengenalan ini akan menjadikan seseorang kokoh dan berakar dalam kebudayaannya sendiri.

Kedua, membaca manuskrip kuna sangat penting agar kita tidak disesatkan oleh tesis-tesis orientalis. Menurut Irfan, naskah kajian orientalis, sepopuler apa pun, sering terjebak dalam penafsiran yang salah.

“Tradisi orientalisme banyak menyesatkan karena mereka ingin menyingkirkan unsur Islam dari sastra Jawa,” kata Irfan.

Irfan mencontohkan pemaknaan kata suluk. Dalam buku seorang orientalis, suluk diartikan sebagai “nada yang meninggi”. Istilah untuk tembang wali ini direduksi maknanya sebatas pada makna bahasa. Dimensi spiritual kata suluk dihilangkan.

Bagi Irfan, suluk berasal dari bahasa Arab, yaitu Man salaka fii thoriqon. Tepatnya, Suluk berasal dari salaka yang berarti “jalan hidup”.

Suluk adalah tembang para wali, panduan hidup dari lahir sampai meninggal,” ucap Irfan.

Contoh lain yang Irfan berikan terdapat dalam buku Etika Jawa karya Frans Magnis Suseno. Paragraf awal buku itu menyebutkan bahwa basis etika orang Jawa adalah abangan, bukan Islam. Padahal, selanjutnya, ia menyebut rukun dan hormat yang berasal dari bahasa Arab sebagai nilai moralnya.

Kontradiksi tersebut menyesatkan pemahaman atas Jawa. Sayang, buku Etika Jawa kini menjadi buku pegangan wajib di banyak universitas di Indonesia.

Naskah-naskah orientalis sering mendefinisikan orang Jawa sebagai abangan semata sementata identitas keislamannya disembunyikan.

Menurut Irfan, kecenderungan tersebut telah bermula sejak era kolonial. Pemerintahan Hindia Belada sengaja melakukan itu untuk melumpuhkan perlawanan pribumi.

“Kalau orang Jawa merasa sebagai muslim, mereka akan terus melawan sebab Belanda dianggap orang kafir,” pungkas Irfan.