Indra Tranggono: Cerpen yang Baik adalah Cerpen yang Subversif

Indra Tranggono: Cerpen yang Baik adalah Cerpen yang Subversif

“Pagi ini sebenarnya teman-teman mau ngapain? Karena proses penulisan cerpen yang saya amati sejak tahun ‘80-an itu sudah melahirkan korban-korban yang bertumbangan. Arep ngopo? Apakah kalian sedang antre bunuh diri? Atau ingin bertarung menjadi seorang pendekar? Atau apa?” Indra Tranggono membuka Workshop Penulisan Cerpennya di Jejak Kopi pada 10 September 2019 lalu. Ia kemudian bertanya pada beberapa peserta, apa alasan mereka mengikuti workshop pagi itu.

“Saya memang dari kecil suka cerpen dan novel. Saya merasa, menulis itu untuk mencintai negara ini. Saya akan menjadi seorang penulis yang aktif,” jawab Tri Sumarni. Sementara itu, Erza, seorang mahasiswa Jurusan Komunikasi di Universitas Ahmad Dahlan menjawab, “Saya ingin belajar menulis cerpen karena saya ingin eksplorasi diri saya sendiri. Dengan saya belajar menulis, artinya sedang membaca diri saya sendiri.”

Risen Dawuh Abdullah memiliki jawaban yang lebih sederhana. Ia berkata, “Saya ingin tahu proses kreatif menulis cerpen Pak Indra. Kebetulan saya mengikuti kiprah menulis Pak Indra. Saya suka cerpen-cerpen Pak Indra di Kompas.”

Indra Trenggono mengisi workshopnya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Baginya, ketika seseorang ingin terjun dalam dunia kepenulisan, ia harus memiliki motivasi yang jelas.

“Dunia sastra itu dunia yang sangat krusial dan menguras energi, batin, pikiran, dll. Dibutuhkan kearifan tertentu dalam menekuninya,” ungkapnya. Merespons Tri Sumarni, alasan menulis sebagai bentuk kecintaan pada negara dalam artian nasionalisme tentu baik, tetapi ora ceto. Sebab, nasionalisme sangatlah luas dalam hal pengertian dan praktik. Bagi Indra, yang terpenting adalah menjadi warga negara yang baik dan manusia kreatif sekaligus.

“Artinya, dalam tahap yang paling mendasar, yo dadi menungso sek. Itu yang bilang bukan saya, tapi Subagio Sastrowardoyo. Jadi penyair itu gampang, yang pertama: sehat! Kalau sakit, ora iso nulis. Jiwamu ora sehat, kenthir. Kowe flu yo ra iso metu kalimat, paling yo kalimatmu iku umbel, tho?” gojek Indra. Sehat baginya bukan hanya sebatas individu, tetapi juga sebagai bangsa. Jika sebagai individu dan sebagai bangsa kita “sakit”, maka sehatkanlah dulu dengan cara berproses kreatif.

Selain sehat, masih mengutip Subagio, syarat kedua adalah harus rajin berlatih. Terkait kepenyairan dan kepenulisan, Subagio membagi pelakunya menjadi dua golongan, yaitu mereka yang mengandalkan bakat alam dan yang mengandalkan intelektualitas. Dalam Bakat Alam dan Intelektualisme, Subagio menyatakan bahwa penulis golongan pertama akan menulis dengan common sense. Mereka tidak pernah menukik pada problem-problem inti.

“Tetapi, kalau penulis itu seorang intelektual, maka ia memiliki kemampuan membaca fenomena.” Indra mencontohkan Chairil Anwar yang mampu membaca laut, kematian, hingga Pangeran Diponegoro. Baginya, Chairil memasukkan visi dalam tulisan-tulisannya. Memasukkan ide dan pandangan adalah hal penting yang harus disadari sebelum menulis. Karena itu, aktivitas ini sangat ditentukan oleh kapasitas intelektual seseorang.

Menanggapi Ezra, Indra memberi komentar bahwa menulis adalah cara untuk berkomunikasi. Penulis adalah subjek yang yang ingin menghantarkan kegelisahan-kegelisahannya kepada pembaca. Kesadaran akan bentuk komunikasi ini sangan penting untuk menentukan siapa yang akan kita ajak “berdialog”.

“Saya sudah membaca beberapa cerpen yang masuk ke saya. Dan menurut saya, teman-teman ini belum memiliki cara pandang yang tajam.” Indra memberi contoh, tema cinta yang sudah berulang kali dituliskan adalah tema yang aus. Lawas. Penulis yang ingin menulis dengan tema ini harus membawa hal baru.

“Coba lihat ketika cinta ditulis oleh Seno, jadilah cerpen ‘Sepotong Senja untuk Pacarku’. Itu luar biasa. Bagaimana tokoh utama menggunting senja dan dikirimkan pada pacarnya. Kowe ndelok neng utara itu langitnya bolong. Orang-orang gempar.” Indra menjelaskan, lewat cerpen ini Seno menghadirkan realitas imajiner menjadi sangat hidup. Cerpen ini mampu mengubah cara berpikir dari yang umum ke subversif: mampu menampilkan alternatif cara berpikir dari versi yang sudah mapan.

Dalam hal proses kreatif, Indra mengaku bisa menjadikan apa pun sebagai tema tulisan. “Saya dengar tetangga saya ngerumpi di sumur tentang anak perempuannya yang tiap pulang ke Jogja selalu bawa bayi dari hubungan gelap. Sampai ibunya yang mengasuh itu malu sama tetangga-tetangganya. Dari situ, muncul cerpen saya yang berjudul ‘Liang’,” ceritanya.

Ketika bicara tentang ide cerita, Indra menekankan bahwa penulis butuh dan harus meriset. Aktivitas tersebut bisa berbentuk riset pustaka (buku, majalah, koran, dll.) hingga riset sosial, yakni mengunjungi tempat-tempat tertentu untuk menangkap realitas masyarakat. Di mana pun seorang penulis berada, ia harus membuka “radar” seluas-luasnya dan menempatkan diri seperti spons yang menyerap air.

Setelah memberi pengantar, peserta diberikan waktu satu jam untuk menuliskan cerpen—tidak harus selesai—untuk nanti dibahas oleh Indra. Peserta harus menggunakan kata-kata kunci seperti: senja, mata, sepatu, ombak, arus, makam, reuni, hutan, anjing, kenangan, malam, selimut, cemas, cemburu, maut, pemburu, pemandi, Tuhan, dll. Setelah ishoma, peserta maju untuk membacakan karyanya. Salah satu cerpen yang dipuji Indra adalah “Dosa Pertama” karya Abdul Hadi.

Tuhan dan iblis bermain dadu. Mereka berdua taruhan. Kopi dan rokok disiapkan para malaikat dari surga. Tiga kali lemparan, Tuhan kalah angka. Iblis menang dan minta diciptakan Adam. Tiga kali lemparan, Tuhan kalah lagi. Hawa diciptakan dari rusuk Adam. Dadu dilempar lagi, kali ini Tuhan yang memang. Iblis tidak terima. Dengan apinya, iblis membakar setengah surga, jadilah neraka. Dadu-dadu terbakar, dan angka tak lagi terbaca.

Lewat cerpen ini, Abdul ingin menyampaikan bahwa kebaikan, kejahatan, dan keburukan, bisa jadi representasi atas manusia dengan sekelilingnya. Indra memberi catatan bahwa cerpen ini hendak mensubversi cara pandang umum tentang salah-benar. Cerpen ini juga menyentak karena tidak umum sebab Tuhan “diturunkan” menjadi makhluk yang bisa berjudi.

“Cerpen ini bisa menjadi cerita dengan kekautan ironi, parodi, bisa jadi sarkasme yang bagus. Kalau Anda kembangkan, Anda bisa punya karakter tertentu yang bermain-main dengan simbol tetapi secara bertanggung jawab,” tambah Indra. Suara tepuk tangan kemudian terdengar.

Beberapa peserta terus maju hingga pukul 13.30, lewat 30 menit dari waktu seharusnya workshop berakhir. Masih banyak naskah yang belum sempat dibacakan untuk mendapat tanggapan dari Indra. Sebab itu, sang penulis buku Iblis Ngambek ini berjanji akan membawanya pulang dan memberikan catatan personal pada masing-masing naskah.