Ida Fitri: Membagi Waktu dan Belajar Menulis Daring

Ida Fitri: Membagi Waktu dan Belajar Menulis Daring

Bertempat di musala Madrasah Tsanawiyah Negeri 9 Bantul, para siwa peserta diskusi Bincang Sastra Milenial Joglitfest 2019 terlihat bersungguh-sungguh mendengarkan materi yang disampaikan oleh para pembicara.

Acara yang berlangsung pukul 08.30 hingga 12.30 itu menghadirkan empat orang pembicara dari daerah berbeda-beda, yaitu Alfian Dippahatang (Sulawesi Selatan), Mustafa Ismail (Jakarta), Ida Fitri (Aceh), dan Irwan Segara (Yogyakarta).

Sebagaimana tersirat dari tajuk acara, keempat pembicara membincangkan keberadaan ruang internet atau media sosial yang tidak membatasi wadah para generasi minelial dalam menulis karya sastra pada zaman ini. Mereka membahas bagaimana kemudian teknologi didayagunakan sebagai jalan bagi generasi tersebut untuk berkarya.

Ida Fitri, yang bekerja di Dinas Kesehatan tetapi masih dapat memiliki waktu untuk menulis, menjawab dengan menceritakan rutinitas sehari-harinya.

Ida terlebih dahulu menyitir pernyataan sastrawan asal Amerika Latin, “Sastra itu api. Api itu membakar. Saya sendiri telah ‘terbakar’ sehingga punya waktu dan energi untuk menuliskannya. Saya berdinas dari pagi sampai sore, lantas waktu malamlah yang saya pergunakan untuk membaca dan menulis.”

Rutinitas tentu saja membuatnya tidak bisa menulis seperti seperti penulis penuh waktu. Sehingga, mau tidak mau ia harus pandai mencuri waktu. Bagi Ida, kuncinya adalah selalu mengingat bahwa menulis sastra butuh latihan panjang dan sesekali jangan pernah dianggap sebagai beban.

Ida menyatakan dirinya diliputi bahagia ketika menatap wajah para siswa yang ceria dan segar pada pagi hari itu. Ia merasa memperoleh transfer energi positif.

Lantaran kesibukan yang dijalaninya dalam berdinas, Ida mengaku pernah menemukan jalan “alternatif” dalam karier kepengarangannya. Pada 2014 lalu, ia mulai belajar menulis online.

“Ada satu kelas menulis yang saat itu gurunya berada di Jakarta. Saya belajar online karena memang bertempat tinggal di Aceh. Dan alhamdulillah, dari proses itu, maka tahun 2015 karya saya dapat termuat di Kedaulatan Rakyat, menyusul tahun 2016 di Koran Tempo,” papar Ida.

Memang tidak bisa ditampik bahwa generasi sekarang makin mudah mengakses ilmu dan informasi. Ada banyak hal positif dapat dipetik dari sana, salah satunya sebagaimana pengalaman Ida.

Selain itu, akses untuk mendapatkan bacaan sastra kian mudah juga hari ini karena adanya teknologi. Tidak ada lagi kata sulit mendapatkan buku.

“Kendati saya berdomisili di Aceh, toko buku online kian membanjir keberadaannya,” tutur penulis buku Air Mata Shakespeare itu.

Ida juga sedikit menyentil tentang keberadaan para penulis perempuan yang ia temui.

“Di diskusi ini, kebahagiaan saya bertambah karena merasa dipertemukan dengan banyak calon penulis perempuan. Di Aceh, penulis perempuan sangat jarang. Intinya, saya berbahagia. Tepuk tangan untuk para perempuan yang hadir di sini,” pungkasnya. (Ilham)