Guna Unen-Unen bagi Hidupmu

Guna Unen-Unen bagi Hidupmu

Unen-unen berguna untuk mewadahi gagasan manusia, baik berupa kritik, pujian, maupun sindiran,” kata Dhanu Priyo Prabowo di Workshop Sastra Jawa sesi 8 yang bertemakan “Falsafah Unen-Unen terhadap Pembentukan Kepribadian Pemuda”.

Workshop ini terlaksana pada Minggu (29/9/2019) mulai pukul 13.00 WIB di Hotel Melia Purosani Yogyakarta.

Unen-unen, menurut Dhanu, adalah kata atau kalimat perumpamaan dalam kesusastraan Jawa. Unen-unen terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu saloka, pepindhan, babasan, dan paribasan. Dhanu tak melanjutkan pembahasan ini secara lebih detail. Ia fokus pada tema, yaitu falsafah unen-unen.

Menurut Dhanu, falsafah Jawa tak serumit falsafah barat yang terperinci. Di barat, ada ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Falsafah Jawa tidak demikian. Ia lebih sederhana dan ditujukan pada praktik keseharian hidup manusia agar mencapai ketenteraman.

Falsafah unen-unen, bagi pemuda, berguna untuk mengajarkan tata krama agar dapat berlaku baik pada semua orang. Pemuda itu tidak akan berlaku serampangan, berhati-hati, dan berusaha sebaik mungkin untuk tidak menyakiti orang lain.

Unen diwulang supoyo ngerti marang tata kromo, mung ora langsung. Pesene alus,” kata Dhanu.

Selanjutnya, Dhanu memberikan beberapa contoh unen-unen Jawa. Pertama, ungkapan kacang mongso ninggalo lanjaran. Dhanu tak langsung menjelaskan maksud ungkapan itu. Ia mengajak peserta berpikir menebak maksudnya.

Setelah mendengar beberapa tebakan, ia memberi tahu rahasia pemaknaan unen-unen. Katanya, sastra Jawa jenis ini dapat dimengerti lewat kisah-kisah lisan Jawa. Pendeknya, kita harus membaca kisah di balik sebuah unen-unen.

Unen-unen selalu butuh cerita,” terang Dhanu.

Dhanu telah menyiapkan cerita di balik unen-unen di atas. Seorang siswa ia undang membacakan kisah itu di depan umum. Kisah itu cukup panjang, menggunakan bahasa Jawa. Usai pembacaan, ia kembali melemparkan pertanyaan tadi, “Opo maksud unen-unen iki?”

Seorang siswa mampu menjawabnya. Kacang moso ninggalo lanjaran serupa peribahasa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Itu benar.

Contoh kedua adalah ungkapan pupur sawise benjut. Dhanu kembali mengulang adegan sebelumnya. Maksud ungkapan itu adalah berhati-hati setelah menemui beberapa bahaya. Manusia diharap dapat berlaku cermat, berhati-hati, dan mau belajar dari kesalahan agar tidak selalu tertimpa bahaya.

Dalam tataran praktik, Dhanu memberi contoh relasi anak dan orang tua, tepatnya tentang sopan santun anak sesuai dengan nilai-nilai luhur Jawa. Misalnya, anak seyogyanya sudah mengerti kemarahan orang tua padanya dari mimik wajah.

Dhanu mengerti bahwa unen-unen Jawa sudah berusia ratusan tahun, begitu jauh dari masa hidup generasi milenial. Ia hanya berharap anak muda mengerti inti ajarannya meski tidak utuh sebab nilai yang tekandung di dalamnya merupakan nilai universal yang berlaku bagi semua kondisi dan bagi semua zaman.