Gody dan Ayi: Kritik Sosial dalam Cerita-cerita Dickens

Gody dan Ayi: Kritik Sosial dalam Cerita-cerita Dickens

“Hari ini kita berbicara cerpen lagi, tetapi berbeda dengan hari sebelumnya. Kemarin, kita telah ‘berkeliling’ ke Indonesia Timur. Nah, hari ini kita akan bicara soal cerpen-cerpen luar negeri yang sudah diterjemahkan oleh Penerbit Basabasi, karangan Charles Dickens, dkk.,” ucap moderator dalam Bedah Buku Menyemai Anggrek Setan karya Charles Dickens, dkk.

Acara tersebut bertempat di Panggung Pasar Sastra Joglitfest 2019, dan berlangsung pukul 11.00 hingga 12.30 WIB, diikuti para peserta undangan dan khalayak umum.

Terik matahari tak mengurangi kekhidmatan audiens menyimak pembahasan oleh dua pembicara, yakni Gody Usnaat dan Ayi Jufridar. Diskusi menjadi lebih hidup ketika audiens ikut merespons dan menanyakan hal-hal umum seputar buku yang didiskusikan, hasil interpretasi pembicara, perihal penerjemahan sastra, cerita-cerita misteri, dan sebagainya.

“Terus terang, saya lebih menikmati membaca puisi ketimbang cerpen,” kata Gody membuka diskusi. “Untuk mengkaji cerpen, ini merupakan kesempatan pertama bagi saya. Tidak jauh berbeda dengan beberapa teman lainnya, awalnya saya menerima buku yang didiskusikan hari ini dalam keadaan sedikit stres.”

Gody melanjutkan kelakarnya dengan cerita bahwa untuk memahami cerita Dickens dalam buku tersebut, ia harus menjadi perokok, lantaran dijangkiti stres tadi. Akhirnya, sehari sebelum digelarnya diskusi tersebut, barulah ia bisa menangkap konten-konten dan maksud cerita yang ditawarkan sang penulis.

“Sebagaimana dikatakan oleh Ignas Kleden, bahwa karya-karya Dickens adalah karya yang berusaha mengkritik permasalahan sosial pada zamannya, tetapi dengan kelihaian yang tidak membuat para pejabat, orang-orang kaya, dan bangsawan tersinggung, malah semakin senang. Kritiknya melahirkan cinta, dan itu aneh bagi saya,” jelas sastrawan asal Nusa Tenggara Timur itu.

Dalam cerpen-cerpen Dickens itu, Gody menemukan kritik sebagaimana dijelaskan Kleden, setidaknya dalam dua cerita.

Pertama, tentang Kapten Jagal yang membunuh istrinya dengan kejam, lantas di akhir justru dirinyalah yang terbunuh oleh istri terakhir, dengan pertimbangan agar sang kapten tidak membunuh lebih banyak manusia lagi.

Kedua, cerita tentang keluarga pembuat kapal yang turun-temurun bernama Cips. Mereka mengajak tikus-tikus yang diganggu iblis untuk berlayar. Celakanya, dalam perjalanan tikus-tikus membuat kapal bolong, dan tenggelamlah mereka.

“Sebenarnya, itulah tadi yang dimaksudkan sebagai kritik sosial, bahwa jika kita tidak berani memilih yang baik, akibatnya bukan saja diterima satu atau dua orang, melainkan banyak orang sekaligus,” pungkasnya.

Ayi, dalam kesempatan berbicara yang kedua, pun menyepakati yang dipaparkan Gody.

“Memang, jika saya perhatikan, dalam cerpen tersebut dihadirkan dua cerita. Sepintas memang tidak ada keterkaitan satu dengan lainnya, tetapi jika kita baca lebih dalam, maka jawabannya adalah ‘ada’,” terangnya.

“Masing-masing kita memang punya interpretasi tersendiri atas pembacaan. Tentang cerita Cips, saya menangkap pesan bahwa cerita tersebut merupakan analogi tatkala pemimpin suatu bangsa tidak mendengarkan suara-suara rakyatnya. Akhirnya apa yang terjadi? Semua oranglah yang terkena imbas bencana,” tegas penulis novel berjudul Kabut Perang (2010) itu. (Ilham Rabbani)