Gamasutra dan Tragedi Pembunuhan Trunojoyo

Gamasutra dan Tragedi Pembunuhan Trunojoyo

Sesi gambar langsung Rupa Sastra ketiga pada Senin (30/9/3019) berbeda. Biasanya, penggambar ditemani para pembaca acak. Siapa saja boleh ikut membaca sebab ceritanya menggunakan Bahasa Indonesia. Pada malam terakhir, Gamasutra mengambil alih peran itu.

Gamasutra membacakan naskah Babad Trunajaya yang menggunakan Bahasa Jawa dan Madura. Logat Madura terasa begitu kental. Mereka mengerti betul soal dialek itu. Salah seorang dari mereka, bernama Siyem, tampak lebih menonjol. Suaranya tegas. Intonasinya tepat.

Wong Madura kang padha njajari
tumbak binang wetara nembelas
tandhu tinedhengan cindhe
sakehe kang angepung

Suara Siyem menguasai lokasi. Kinanti Sekar Rahina menari mengitari panggung, menambah kesan magis. Enka Komariah, sang penggambar, sibuk mengoleskan kuasnya di atas gambar. Warna merah di atas kepala terpenggal dan seorang pria yang menggenggam pedang, menggambarkan tragedi.

Babad Trunojoyo memang berisi cerita tragis. Trunojoyo, seorang adipati di Madura, terlibat perjuangan di Jawa melawan penjajah. Ia menikahi putri-putri raja demi memperkuat basis pertahanan di pulau ini.

Suatu kali Trunojoyo diundang seorang raja ke sebuah perjamuan. Ia diwajibkan meninggalkan senjata. Sial, ia masuk jebakan. Sang raja yang bersekutu dengan Belanda berkhianat. Trunojoyo dibunuh. Kepalanya ditebas hingga putus, serupa gambar Enka.

“Kepala Trunojoyo ditebas lalu dimasukkan ke lumpang batu. Sang raja memerintahkan istri dan selirnya untuk menumbuk kepala itu hingga hancur,” ucap Siyem, mahasiswi Sastra Jawa Universitas Gadjah Mada.

Ini merupakan penampilan keempat Gamasutra di Joglitfest 2019. Setiap hari, mereka mendapat jatah tampil membacakan naskah-naskah Jawa. Di festival sastra ini, Gamasutra menampilkan bentuk pertunjukan baru, keluar dari pakem biasanya.

“Sebenarnya, Gamasutra komunitas karawitan. Tapi, kami bikin bentuk pertunjukan baru untuk Joglitfest,” pungkas Siyem.