Frischa Aswarini: Menulis Puisi Itu Menyenangkan

Frischa Aswarini: Menulis Puisi Itu Menyenangkan

Frischa Aswarini, penyair yang lahir di Denpasar, Bali, ini memulai proses kreatifnya sejak SMP. Namun, ia benar-benar serius menulis sejak SMA. Tepatnya, saat bergabung ke Komunitas Sahaja, didukung dengan kegiatan ekstrakurikuler SMA di bidang teater dan jurnalistik.

“Jadi, memang komunitas adalah salah satu yang berpengaruh bagi proses saya,” katanya saat menjadi pembicara di Bincang Sastra Milenial yang diselenggarakan Joglitfest 2019 di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Yogyakarta, Sabtu (28/9/2019).

Sekarang, Frischa, begitu sapaannya, selain menjadi penyair, juga kerap kali menjadi penyiar.

Tentang proses kreatif, baginya setiap orang pasti berbeda-beda, namun ia berproses dengan cara membaca, menonton film, dan jalan-jalan yang nanti akan menyediakan bahan untuk menulis karya sastra.

“Satu lagi cara berproses saya, yaitu mendengarkan orang yang sedang berbicara, misalnya dalam diskusi,” tambahnya.

Dengan santai, ia menanyakan ke seluruh peserta, “Apakah di sini ada yang menulis puisi? Biasanya ada langsung yang menulis sekali jadi gitu?”

Nulis langsung sekali jadi,” jawab peserta serentak.

Menurut pengalaman Frischa, menulis harus dengan membaca dulu, nonton film, dan jalan-jalan untuk menambah pengalaman yang didapat. Bisa jadi, cara seperti itu menjadi tabungan batin. Pengalaman bertemu orang atau ketika melihat orang sekitar, misalnya di pasar, kemudian mengendap dan nanti akan dikeluarkan dalam bentuk puisi.

“Kalau saya mau nulis, misal, saya mau nulis puisi tentang Yogya, pasti bisa. Tapi, jarang sekali saya nulis dan langsung jadi. Saya biasanya menuliskan karya pertama-tama dengan meluapkan perasaan tanpa bimbang.”

Ia menceritakan, saat menulis puisi, bisanya ia membiarkan jari-jari tangan-tangannya liar mengetik, dan membiarkan pemikiran dan emosi terhadap sesuatu keluar. Tahapan berikutnya adalah proses editing.

“Di proses editing, baru saya menakar, mengukur, menimbangkan diksi yang bagus, sampai puisi itu sudah benar-benar siap dan layak disebut puisi. Jika mau menulis puisi bagus, kita jangan menulis sendirian saja. Kita harus terus berbagi, seperti sharing atau diskusi dengan guru dan teman. Menurut saya, menulis puisi adalah hal yang menyenangkan.”

Meskipun bersekolah di Jurusan Sejarah Universitas Udayana, Bali, ia menganggap bahwa sejarah dan sastra masih agak mirip, tidak terlalu jauh berbeda. Menurutnya, tidak melulu sastra itu fiksi yang melulu khayalan. Ada juga karya sastra yang masih berbau sejarah. (Achmad Sudiyono Efendi)