Film yang Tidak Berjarak dengan Sastra

Film yang Tidak Berjarak dengan Sastra

Tri Wahyudi tampak bercengkerama dengan para mahasiswanya seusai pemutaran film Perempuan Berkalung Sorban dalam program Bioskop Sastra di Ruang Umar Kayam, Benteng Vredeburg, Yogyakarta (29/9/2019).

Ia meminta anak-anak muda itu untuk datang lagi pada pemutaran film Sang Penari esok hari. Beberapa mahasiswa menyatakan tidak bisa sebab jadwal kuliah penuh.

“Wah, kalau itu sih sialnya kalian,” candanya, disambut tawa terkekeh para mahasiswa.

Sebagai dosen Penulisan Naskah di Jogja Film Academy, Tri sengaja mengajak mahasiswanya untuk menonton bareng film besutan Hanung Bramantyo yang diangkat dari novel karya Abidah El-Khalieqy itu. Ia ingin para mahasiswanya tidak berjarak dengan karya sastra jika nanti telah berkarier sebagai filmmaker.

“Ada banyak film yang diangkat dari sastra yang bisa menjadi besar dan menarik. Jadi, mahasiswa bisa belajar untuk mengenali karya-karya sastra besar di Indonesia sebagai seorang calon filmmaker,” terangnya.

Yudi, yang seorang pembaca buku, memang sangat tertarik menonton film yang dialihwahanakan dari sastra. Perempuan Berkalung Sorban adalah favoritnya. Ia bahkan sudah menonton film tersebut beberapa kali. Menurutnya, film yang dibintangi Ravalina S. Temat dan Oka Antara itu adalah film yang jujur.

Tri juga menyatakan akan hadir di pemutaran film Sang Penari. Sarannya pada penyenggara Joglitfest 2019 adalah agar mengusahakan banyak orang yang hadir, entah lewat promosi media sosial yang masif atau lainnya. Ia juga berharap agar Joglitfest diselenggarakan tiap tahun.