Enka Komariah Menafsir Babad Trunajaya dalam Rupa Sastra Joglitfest 2019

Enka Komariah Menafsir Babad Trunajaya dalam Rupa Sastra Joglitfest 2019

Dari jauh, sayup-sayup kedengaran suara gender dipukul. Malam jadi serasa hidup, dan pada layar putih yang terpasang di panggung Rupa Sastra, tertulis “Babad Trunajaya”.

Senin (30/9/2019), tepatnya setelah azan magrib, satu demi satu penonton memadati area yang telah disiapkan oleh panitia.

Malam itu, kegiatan Rupa Sastra Joglitfest 2019 diisi dengan penampilan dari Enka Komariah yang menafsir isi Babad Trunajaya lewat lukisan-lukisannya yang disajikan di atas kertas mikar transparan, yang lantas ditampilkan dengan proyektor.

Aktivitas Enka itu diiringi tembang yang dibawakan Sanggar Kinanti Sekar Yogyakarta. Yogya tidak asing dengan Babad Trunajaya yang ditafsir lewat gambar pada saat itu.

“Sebetulnya saya memvisualkan isi dari serat, semacam mengilustrasikan cerita dalam naskah kuna, dalam hal ini yang dipilih adalah Babad Trunajaya,” terang Enka.

Ia mengakui, dirinya membutuhkan  persiapan seharian untuk melukis di atas kertas-kertas mika transparan. Kebutuhan lain yang diperlukan untuk penampilan tersebut dan cukup sukar ditemukan adalah proyektor edisi awal seperti dipergunakannya malam itu.

“Saya sendiri memiliki ketertarikan pada arsip-arsip Jawa kuna, dan saya melihat apa yang ditawarkan Joglitfest 2019 punya relevansi dengan hal itu. Beberapa karya saya juga terinspirasi dari naskah-naskah kuna. Misalnya, selain Babad Trunajaya ini, ada juga Serat Centhini dan Babad Tanah Jawi,” lanjutnya sambil tersenyum lega setelah pementasan.

Menurut pria yang malam itu mengenakan baju hitam, serta tampil dengan rambut terikat, tersebut, pengetahuan tentang naskah kuna amat penting disajikan kepada khalayak, salah satunya dengan cara sebagaimana ditawarkan oleh Joglitfest.

“Saya merasa, amat penting kegiatan semacam ini terus dilanjutkan, lebih-lebih berlokasi di Yogyakarta yang merupakan Kota Pendidikan dan Kota Budaya. Orang-orang yang berkunjung, para mahasiswa, atau siapa pun yang datang ke Yogya, tentu harus mengenal peninggalan-peninggalan sastra semacam ini juga,” tandasnya. (Ilham Rabbani)